Wednesday, 4 July 2012

Suara (CERPEN)







My Precious :)
pernah diterbitkan koran Jawa Pos Metropolis pada rubik Deteksi. aku lupa tanggal berapa.. hehe
ceki guyssss :))))

_________________________________



SUARA

Tentang apa yang tidak pernah aku miliki sejak aku tercipta. Tentang apa yang paling ku butuhkan, tentang apa yang paling ku inginkan saat ini. Tuhan mengambilnya, sejak awal. Padahal aku sangat membutuhkannya. bahagia, senang, bangga, haru dan tawa hanya tertahan, tak pernah terungkapkan dengan kata kata.. Tak pernah bisa, Tak pernah menyeruak keluar. Tak pernah ada yang mengerti bagaimana menahannya.
**
Luna Haifa Swara, 5 tahun
Aku terkurung dalam sebuah keterbatasan. Aku benci ketika aku hanya bisa meredam seluruh emosi, yang aku punya hanyalah sebuah ekspresi. Dimulai dari sini. Pada usia sekecil ini, aku sudah mulai merasakan ketidakadilan. Aku hanya bisa terdiam ketika ibu guru dan teman teman menyanyikan lagu bintang kecil. Di suatu perayaan ulang tahun, aku hanya bisa bertepuk tangan ketika teman teman menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun. Dan yang paling menyakitkan adalah aku hanya bisa tersenyum ketika Ayah dan Ibu memberikan sebuah boneka padahal aku sangat ingin berkata, “Terima Kasih, aku sayang kalian...” seperti apa yang orang lain lakukan. Aku selalu sendirian, aku tak punya teman. Maklum saja aku tak bisa mengeluarkan rangkaian kata yang bisa membuat teman teman perempuanku mengerti bahwa aku juga memiliki boneka barbie, bahkan lebih cantik dari yang mereka miliki. Aku juga tak bisa berkata apa apa untuk mengajak teman teman bermain di rumah.
Ketika sedang istirahat. semua anak di taman kanak kanak ini bermain, berlari bergembira dan tertawa. Sementara aku, hanya duduk di bangku kayu kecil berwarna merah ditemani kotak makan yang berisi roti bakar buatan ibu. Aku terdiam, duduk sendirian dan melihat beberapa ekspresi kebahagiaan yang dilengkapi suara tawa riang gembira yang membuat dunia terasa sangat ceria.
Ketika aku sedang memperhatikan Cindy dan Nia yang bermain ayunan, tiba tiba aku dikagetkan dengan bola plastik yang menyundul punggungku. Aku terperanjat mencari sumber keusilan. Dan, munculah sosok anak laki laki yang terlihat sangat badung. Ia berdiri dihadapanku, kemudian menatapku. Aku kaget, kemudian ia tertawa dihadapanku dengan memperlihatkan gigi depannya yang ompong. Sangat lucu, aku tersenyum. Kemudian ia mengambil bola plastiknya lalu berkata padaku “ayo main bola sama aku..” sejak saat itu, duniaku tidak kosong. Aku punya seorang teman terbaik.
**
Luna Haifa Swara, 13 tahun
Aku seorang gadis bisu, namun aku tak mau mengisolasi mental dan nurani.  Aku melanjutkan sekolah seperti anak normal lainnya. Aku diterima di SMP favorit di kota ini. selama 6 tahun di sekolah dasar aku belajar banyak tentang bagaimana beradaptasi, berkomunikasi dan menjalin pertemanan dengan beberapa orang dengan sebuah keterbatasan yang kini tak lagi menjadi bencana besar. Aku berbicara dengan bahasa isyarat. Terkadang jika orang orang tak mengerti aku menuliskan kata kata di sebuah catatan kecil yang selalu kubawa kemanapun aku pergi. Aku memiliki beberapa orang sahabat yang sangat baik. Mereka mampu melindungi kekuranganku, meminimalisir ketakutanku dan menjagaku sebagai seorang sahabat, teman, saudara yang penuh kasih dan perhatian. Bersama mereka, aku menemukan sebuah kenyamanan. Dan semakin lama  kenyamanan itu berkembang menjadi sebuah kebebasan. Sebuah kebebasan abstrak dalam berbagi dan bereksplorasi. Kini seiring berjalan nya waktu kebebasan itu telah berkembang secara alami menjadi sebuah kepercayaan. Kepercayaan unik, keterikatan dan perhatian yang kusebut persahabatan.
Suatu hari ketika Ayah dan Ibu sedang pergi ke luar kota selama 2 hari, aku mengundang 3 orang sahabat terbaikku untuk menginap di rumah. Ketika mereka sedang asyik mengobrol di kamarku, aku pergi ke dapur untuk mengambil beberapa makanan ringan. Betapa kagetnya aku ketika aku kembali ke kamar dan melihat mereka terdiam dihadapan sebuah pigura besar di sebelah meja belajar. Perhatian mereka tertuju pada pigura besar yang berisi kumpulan foto masa kecilku bersama Azka. Aku terdiam dibalik sebuah kecemasan. Diana menunjuk pada satu tulisan di pojok kanan bawah, “A-L  My First, Irreplaceable ♥”
Dan, apa yang ku prediksikan terjadi. Mereka menanyakan hal itu. tentang foto itu, dan tulisan itu. dan aku pun bercerita tentang Azka. Azka Adhira, Seorang teman terbaikku. teman pertama yang kumiliki. Sangat nakal, emosional, dingin, kharismatik dan menarik. Sangat usil namun manis dan penyayang.  Dimulai dari masa taman kanak kanak. berjalan selama 5 tahun sejak aku bersamanya,  aku menemukan sebuah kenyamanan yang tak tergantikan. Saat paling menyenangkan adalah saat bersamanya. Hingga pada akhirnya, saat kelas 4 SD ia memutuskan untuk ikut orang tuanya pindah ke Bandung. Aku merasakan masa masa sulit berkepanjangan. Kehilangan sebuah kebahagiaan dan kesenangan.  Aku benar benar kehilangan seorang Azka. Tak terungkap, aku tak memiliki suara sebagai senjata untuk berbagi rasa dan bercerita pada orang orang di sekelilingku.  Tak ada yang mengerti rasanya, sakitnya, hilangnya....hilang! Azka pergi, meninggalkanku sendiri. Hingga pada akhirnya aku memutuskan untuk bangkit dan berubah untuk mencari teman sebanyak banyaknya.  Semua cerita tentang Azka tersimpan rapi, terpendam dalam memori dan terkunci di dalam ruang khusus di hati ini. Selama bertahun tahun aku tak henti berharap suatu saat ia akan kembali.  Dan saat ini, ketika masa puber ini mulai ku lewati aku tersadar bahwa Azka bukan hanya  sahabat terbaik, namun ia telah menjadi seseorang yang telah singgah di hati, Tak terganti...

**
Luna Haifa Swara 18 tahun
Secangkir Cappucinno hangat menemaniku. Hujan baru saja berhenti, suara gerimis terdengar sangat eksotis. Bau hujan masih membekas, langit mendung agak memudar, kubangan air di sepanjang jalan menjadi bukti hujan deras baru saja terjadi. Sudah 30 menit, aku masih belum beranjak dari sini, dari tempat duduk favoritku di sebuah kafe. Aku dapat menjangkau dunia  melalui  jendela besar di sebelah kiri tempat dudukku.  aku dapat melihat senyum semua orang,  ekspresi marah yang membeludak, ibu dan anak yang berjalan bergandengan tangan, segurumbulan remaja wanita yang bercengkrama dan tertawa, sepasang kekasih yang dimabuk asmara dan berbagai ekspresi alami dan beberapa mimik wajah yang menggelitik.  Aku terlalu menyukainya,
Masih menatap jendela itu, Lamunanku terhenti, mataku mengarah pada satu sudut pandang. Kontras, mencuri perhatian. Tak henti memperhatikannya, tak bisa mengalihkan pandangan. Pria itu berjalan dan tersenyum.. sangat manis.
Pria itu Berjalan, terus berjalan mendekati pintu masuk kafe ini. ia memasuki ruangan, ia dekat tepat di depan pandanganku. Jantungku berdegup kencang, konsentrasiku buyar. Dia ada disini di ruangan ini. dia berjalan mendekat, dunia berhenti sesaat. Dia ada di ruangan ini, terlihat sangat sibuk berbicara dengan beberapa karyawan. Tiba tiba pandanganku luput dari sosok menarik itu. Aku merasa Kecewa, seperti gadis kecil kehilangan boneka.
Tak lama, ia muncul lagi. Di depan dimana semua orang mampu menjangkaunya. Dia berdiri di atas panggung kecil dengan membawa sebuah gitar. Lalu ia duduk dengan mikrofon dihadapannya. Ia memulai memainkan senar gitarnya. Sangat menarik.. ia memulai sebuah lagu dengan awal yang indah. Petikan gitar yang anggun ditambah dengan paduan suara ‘romantis’  pria itu membuatku merasa terbuai dengan pesona dan aura yang tak terungkapkan oleh kata kata. Apa yang ia lantunkan benar benar membuyarkan semua ketidaknyamanan. Aku menemukan ketenangan. Melalui sebuah lagu, melalui suara yang merdu, melalui nyanyian yang sendu, ia telah mengalihkan duniaku.
Pria itu adalah seorang penyanyi tetap di kafe ini. pria itu memiliki satu hal yang bisa dibilang candu yang menarikku untuk selalu hadir disini setiap waktu. Ia memiliki apa yang tidak aku miliki, Suara. Dan miliknya itu adalah Suara yang sangat syahdu yang membuat nuraniku terbuai setiap kali mendengarnya. Aku menangkap suatu kharisma dalam dirinya yang sangat menarik yang sepertinya pernah merampas perhatianku. aku tak tau apa, yang jelas tak terungkapkan oleh kata kata. Terasa seperti, Aura...
Malam itu, ketika aku hadir di kafe itu untuk melihatnya bernyanyi. Aku merasakan sesuatu yang sangat aneh ketika aku beberapa kali menangkapnya memperhatikan kehadiranku disini. Terlihat sangat jelas, tatapan mata itu mengarah kepadaku. Aku gugup, bingung, takut, cemas. Ya, aku takut jika ia datang menghampiriku dan mengajakku berbicara sementara aku akan membisu, tanpa sepatah kata saja lalu ia akan tahu bahwa aku seorang gadis bisu. Tanpa pikir panjang aku beranjak pergi dari kafe itu. Segera pulang ke rumah bergegas untuk segera berbaring di peraduan. Menenangkan semua pikiran dan meminimalisir kekhawatiran.
Aku menjatuhkan diri ke tempat tidur, aku terdiam menatap langit langit kamar. Aku tenggelam dalam bayangan pria itu. aku bingung, mengapa aku harus pergi, berlari, dan menghindari. Mengapa aku begitu takut. Mungkin ia tau bahwa aku adalah pendengar setianya dan mungkin ia ingin berteman denganku. Atau mungkin sejak awal ia telah melihat keanehanku, sisi lainku. Atau mungkin... fiuuh, terlalu banyak kemungkinan. Namun sekali lagi, mengapa aku harus pergi. Aku terlihat sangat pesimis. Bukankah aku berjanji Tidak perlu ada yang ditutupi, kekuranganku. Seekstrim apapun itu, semua orang harusnya mengerti
2 hari berikutnya, aku kembali ke kafe itu. menghapus semua sugesti negatif dan menggantinya dengan niat optimis. Aku duduk di tempat yang sama, tempat favoritku. Sekali lagi ia ada disini, kembali bernyanyi. Waktu terasa begitu cepat. Ia telah selesai menyanyikan lagu lagu yang selalu dialunkan dengan indah. Tak lama aku melihat sosok itu, pria itu.. pria manis itu.. Ya, benar penyanyi kafe yang ku kagumi itu berdiri di hadapanku. Aku terperanjat, tak percaya. Aku mengedipkan mata, tak berubah! Ia tetap masih ada di hadapanku. Menatapku.. aku juga menatapnya. Menikmati ketidakpercayaan ini, kemudian ia tersenyum. Aku bingung, ia mengulurkan tangan dan berkata “Halo... apa kabar lun? Kenalkan namaku Azka Adhira..”