My Precious :)
pernah diterbitkan koran Jawa Pos Metropolis pada rubik Deteksi. aku lupa tanggal berapa.. hehe
ceki guyssss :))))
_________________________________
SUARA
Tentang apa yang tidak pernah aku miliki
sejak aku tercipta. Tentang apa yang paling ku butuhkan, tentang apa yang
paling ku inginkan saat ini. Tuhan mengambilnya, sejak awal. Padahal aku sangat
membutuhkannya. bahagia, senang, bangga, haru dan tawa hanya tertahan, tak
pernah terungkapkan dengan kata kata.. Tak pernah bisa, Tak pernah menyeruak
keluar. Tak pernah ada yang mengerti bagaimana menahannya.
**
Luna Haifa Swara, 5 tahun
Aku terkurung dalam sebuah keterbatasan.
Aku benci ketika aku hanya bisa meredam seluruh emosi, yang aku punya hanyalah
sebuah ekspresi. Dimulai dari sini. Pada usia sekecil ini, aku sudah mulai
merasakan ketidakadilan. Aku hanya bisa terdiam ketika ibu guru dan teman teman
menyanyikan lagu bintang kecil. Di suatu perayaan ulang tahun, aku hanya bisa
bertepuk tangan ketika teman teman menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun. Dan
yang paling menyakitkan adalah aku hanya bisa tersenyum ketika Ayah dan Ibu
memberikan sebuah boneka padahal aku sangat ingin berkata, “Terima Kasih, aku sayang
kalian...” seperti apa yang orang lain lakukan. Aku selalu sendirian, aku tak
punya teman. Maklum saja aku tak bisa mengeluarkan rangkaian kata yang bisa membuat
teman teman perempuanku mengerti bahwa aku juga memiliki boneka barbie, bahkan
lebih cantik dari yang mereka miliki. Aku juga tak bisa berkata apa apa untuk
mengajak teman teman bermain di rumah.
Ketika sedang istirahat. semua anak di
taman kanak kanak ini bermain, berlari bergembira dan tertawa. Sementara aku,
hanya duduk di bangku kayu kecil berwarna merah ditemani kotak makan yang
berisi roti bakar buatan ibu. Aku terdiam, duduk sendirian dan melihat beberapa
ekspresi kebahagiaan yang dilengkapi suara tawa riang gembira yang membuat
dunia terasa sangat ceria.
Ketika aku sedang memperhatikan Cindy
dan Nia yang bermain ayunan, tiba tiba aku dikagetkan dengan bola plastik yang
menyundul punggungku. Aku terperanjat mencari sumber keusilan. Dan, munculah
sosok anak laki laki yang terlihat sangat badung. Ia berdiri dihadapanku,
kemudian menatapku. Aku kaget, kemudian ia tertawa dihadapanku dengan
memperlihatkan gigi depannya yang ompong. Sangat lucu, aku tersenyum. Kemudian
ia mengambil bola plastiknya lalu berkata padaku “ayo main bola sama aku..”
sejak saat itu, duniaku tidak kosong. Aku punya seorang teman terbaik.
**
Luna Haifa Swara, 13 tahun
Aku seorang gadis bisu, namun aku tak
mau mengisolasi mental dan nurani. Aku
melanjutkan sekolah seperti anak normal lainnya. Aku diterima di SMP favorit di
kota ini. selama 6 tahun di sekolah dasar aku belajar banyak tentang bagaimana
beradaptasi, berkomunikasi dan menjalin pertemanan dengan beberapa orang dengan
sebuah keterbatasan yang kini tak lagi menjadi bencana besar. Aku berbicara
dengan bahasa isyarat. Terkadang jika orang orang tak mengerti aku menuliskan
kata kata di sebuah catatan kecil yang selalu kubawa kemanapun aku pergi. Aku
memiliki beberapa orang sahabat yang sangat baik. Mereka mampu melindungi
kekuranganku, meminimalisir ketakutanku dan menjagaku sebagai seorang sahabat,
teman, saudara yang penuh kasih dan perhatian. Bersama mereka, aku menemukan
sebuah kenyamanan. Dan semakin lama
kenyamanan itu berkembang menjadi sebuah kebebasan. Sebuah kebebasan
abstrak dalam berbagi dan bereksplorasi. Kini seiring berjalan nya waktu
kebebasan itu telah berkembang secara alami menjadi sebuah kepercayaan.
Kepercayaan unik, keterikatan dan perhatian yang kusebut persahabatan.
Suatu hari ketika Ayah dan Ibu sedang
pergi ke luar kota selama 2 hari, aku mengundang 3 orang sahabat terbaikku
untuk menginap di rumah. Ketika mereka sedang asyik mengobrol di kamarku, aku
pergi ke dapur untuk mengambil beberapa makanan ringan. Betapa kagetnya aku
ketika aku kembali ke kamar dan melihat mereka terdiam dihadapan sebuah pigura
besar di sebelah meja belajar. Perhatian mereka tertuju pada pigura besar yang
berisi kumpulan foto masa kecilku bersama Azka. Aku terdiam dibalik sebuah
kecemasan. Diana menunjuk pada satu tulisan di pojok kanan bawah, “A-L My First, Irreplaceable ♥”
Dan, apa yang ku prediksikan terjadi.
Mereka menanyakan hal itu. tentang foto itu, dan tulisan itu. dan aku pun
bercerita tentang Azka. Azka Adhira, Seorang teman terbaikku. teman pertama
yang kumiliki. Sangat nakal, emosional, dingin, kharismatik dan menarik. Sangat
usil namun manis dan penyayang. Dimulai
dari masa taman kanak kanak. berjalan selama 5 tahun sejak aku bersamanya, aku menemukan sebuah kenyamanan yang tak
tergantikan. Saat paling menyenangkan adalah saat bersamanya. Hingga pada
akhirnya, saat kelas 4 SD ia memutuskan untuk ikut orang tuanya pindah ke
Bandung. Aku merasakan masa masa sulit berkepanjangan. Kehilangan sebuah
kebahagiaan dan kesenangan. Aku benar
benar kehilangan seorang Azka. Tak terungkap, aku tak memiliki suara sebagai
senjata untuk berbagi rasa dan bercerita pada orang orang di sekelilingku. Tak ada yang mengerti rasanya, sakitnya,
hilangnya....hilang! Azka pergi, meninggalkanku sendiri. Hingga pada akhirnya
aku memutuskan untuk bangkit dan berubah untuk mencari teman sebanyak
banyaknya. Semua cerita tentang Azka
tersimpan rapi, terpendam dalam memori dan terkunci di dalam ruang khusus di
hati ini. Selama bertahun tahun aku tak henti berharap suatu saat ia akan
kembali. Dan saat ini, ketika masa puber
ini mulai ku lewati aku tersadar bahwa Azka bukan hanya sahabat terbaik, namun ia telah menjadi
seseorang yang telah singgah di hati, Tak terganti...
**
Luna Haifa Swara 18 tahun
Secangkir Cappucinno hangat menemaniku.
Hujan baru saja berhenti, suara gerimis terdengar sangat eksotis. Bau hujan
masih membekas, langit mendung agak memudar, kubangan air di sepanjang jalan
menjadi bukti hujan deras baru saja terjadi. Sudah 30 menit, aku masih belum
beranjak dari sini, dari tempat duduk favoritku di sebuah kafe. Aku dapat
menjangkau dunia melalui jendela besar di sebelah kiri tempat dudukku.
aku dapat melihat senyum semua
orang, ekspresi marah yang membeludak,
ibu dan anak yang berjalan bergandengan tangan, segurumbulan remaja wanita yang
bercengkrama dan tertawa, sepasang kekasih yang dimabuk asmara dan berbagai
ekspresi alami dan beberapa mimik wajah yang menggelitik. Aku terlalu menyukainya,
Masih menatap jendela itu, Lamunanku
terhenti, mataku mengarah pada satu sudut pandang. Kontras, mencuri perhatian.
Tak henti memperhatikannya, tak bisa mengalihkan pandangan. Pria itu berjalan
dan tersenyum.. sangat manis.
Pria itu Berjalan, terus berjalan
mendekati pintu masuk kafe ini. ia memasuki ruangan, ia dekat tepat di depan
pandanganku. Jantungku berdegup kencang, konsentrasiku buyar. Dia ada disini di
ruangan ini. dia berjalan mendekat, dunia berhenti sesaat. Dia ada di ruangan
ini, terlihat sangat sibuk berbicara dengan beberapa karyawan. Tiba tiba
pandanganku luput dari sosok menarik itu. Aku merasa Kecewa, seperti gadis
kecil kehilangan boneka.
Tak lama, ia muncul lagi. Di depan
dimana semua orang mampu menjangkaunya. Dia berdiri di atas panggung kecil
dengan membawa sebuah gitar. Lalu ia duduk dengan mikrofon dihadapannya. Ia memulai
memainkan senar gitarnya. Sangat menarik.. ia memulai sebuah lagu dengan awal
yang indah. Petikan gitar yang anggun ditambah dengan paduan suara ‘romantis’ pria itu membuatku merasa terbuai dengan
pesona dan aura yang tak terungkapkan oleh kata kata. Apa yang ia lantunkan
benar benar membuyarkan semua ketidaknyamanan. Aku menemukan ketenangan.
Melalui sebuah lagu, melalui suara yang merdu, melalui nyanyian yang sendu, ia
telah mengalihkan duniaku.
Pria itu adalah seorang penyanyi tetap
di kafe ini. pria itu memiliki satu hal yang bisa dibilang candu yang menarikku
untuk selalu hadir disini setiap waktu. Ia memiliki apa yang tidak aku miliki,
Suara. Dan miliknya itu adalah Suara yang sangat syahdu yang membuat nuraniku
terbuai setiap kali mendengarnya. Aku menangkap suatu kharisma dalam dirinya
yang sangat menarik yang sepertinya pernah merampas perhatianku. aku tak tau
apa, yang jelas tak terungkapkan oleh kata kata. Terasa seperti, Aura...
Malam itu, ketika aku hadir di kafe itu
untuk melihatnya bernyanyi. Aku merasakan sesuatu yang sangat aneh ketika aku
beberapa kali menangkapnya memperhatikan kehadiranku disini. Terlihat sangat
jelas, tatapan mata itu mengarah kepadaku. Aku gugup, bingung, takut, cemas.
Ya, aku takut jika ia datang menghampiriku dan mengajakku berbicara sementara
aku akan membisu, tanpa sepatah kata saja lalu ia akan tahu bahwa aku seorang
gadis bisu. Tanpa pikir panjang aku beranjak pergi dari kafe itu. Segera pulang
ke rumah bergegas untuk segera berbaring di peraduan. Menenangkan semua pikiran
dan meminimalisir kekhawatiran.
Aku menjatuhkan diri ke tempat tidur,
aku terdiam menatap langit langit kamar. Aku tenggelam dalam bayangan pria itu.
aku bingung, mengapa aku harus pergi, berlari, dan menghindari. Mengapa aku
begitu takut. Mungkin ia tau bahwa aku adalah pendengar setianya dan mungkin ia
ingin berteman denganku. Atau mungkin sejak awal ia telah melihat keanehanku,
sisi lainku. Atau mungkin... fiuuh, terlalu banyak kemungkinan. Namun sekali
lagi, mengapa aku harus pergi. Aku terlihat sangat pesimis. Bukankah aku
berjanji Tidak perlu ada yang ditutupi, kekuranganku. Seekstrim apapun itu,
semua orang harusnya mengerti
2 hari berikutnya, aku kembali ke kafe
itu. menghapus semua sugesti negatif dan menggantinya dengan niat optimis. Aku
duduk di tempat yang sama, tempat favoritku. Sekali lagi ia ada disini, kembali
bernyanyi. Waktu terasa begitu cepat. Ia telah selesai menyanyikan lagu lagu
yang selalu dialunkan dengan indah. Tak lama aku melihat sosok itu, pria itu..
pria manis itu.. Ya, benar penyanyi kafe yang ku kagumi itu berdiri di
hadapanku. Aku terperanjat, tak percaya. Aku mengedipkan mata, tak berubah! Ia tetap
masih ada di hadapanku. Menatapku.. aku juga menatapnya. Menikmati ketidakpercayaan
ini, kemudian ia tersenyum. Aku bingung, ia mengulurkan tangan dan berkata
“Halo... apa kabar lun? Kenalkan namaku Azka Adhira..”

No comments:
Post a Comment