Masa depan itu penuh rahasia. Sejauh apapun kita melangkah, hanya takdir yg akan membawa kita ke kisah yg tak pernah disangka.
Waktu akan membawa mu berjalan utk menemukan kisah baru, atau bahkan akan membawamu kembali bertemu dengan orang-orang di masa lalu.
Dimensi satu
Satu dua tiga orang berbicara. Tentang isu yang berkembang saat ini, tentang motivasi, tentang janji-janji yang dijejali kata-kata persuasif. Tentang tawar menawar semacam: "berinvestasilah, belajarlah dan bergabunglah bersama kami, organisasi ini tidak akan membuat kalian merasa rugi. Tidak akan rugi".
Dan aku pun tak tau, angin apa yang membawaku kesini, kecuali untuk menemani Vania. Ia memang menyukai hal-hal yang berbau bisnis, investasi dan semacamnya, saking antusiasnya, dia membawaku duduk di barisan kedua dari depan. Aku juga tak percaya aku mampu bertahan berlama-lama hanya untuk duduk mendengarkan motivator atau lebih tepatnya marketeer ini berbicara. Walau sebenarnya tak pernah aku terkesima tentang bualan mereka soal prospek investasi ini itu.
Semua perhatian teralihkan saat gagang pintu itu bergerak,
Dan aku pun tak tau, angin apa yang membawaku kesini, kecuali untuk menemani Vania. Ia memang menyukai hal-hal yang berbau bisnis, investasi dan semacamnya, saking antusiasnya, dia membawaku duduk di barisan kedua dari depan. Aku juga tak percaya aku mampu bertahan berlama-lama hanya untuk duduk mendengarkan motivator atau lebih tepatnya marketeer ini berbicara. Walau sebenarnya tak pernah aku terkesima tentang bualan mereka soal prospek investasi ini itu.
Semua perhatian teralihkan saat gagang pintu itu bergerak,
"maaf aku terlambat. Jalanan macet",
3 detik tersentak, semua pasang mata mengalihkan pandangannya pada pria yang baru saja memasuki ruangan ini. kemudian sang moderator kembali merebut perhatian para penonton, tetapi tidak dengan aku.
tak pernah bisa ku lepaskan pandanganku pada pria yang baru saja membuka pintu itu. Aku merasa ada sesuatu yang mengikatku. Koneksi, medan magnet yang menarikku atau apalah itu, yang jelas aku menyukai kehadirannya. Ia terlihat "berbeda" dengan bagaimana saat pertama kali ia muncul di hadapanku dengan memakai kemeja jeans berwarna biru tua yang dipadankan dengan kaos hitam, dan ia membiarkan kancing kemeja nya terbuka. Dari semua orang di dalam ruangan ini, dia memang bintangnya. Sejak itu, bahkan sejak pertama kali ia membuka pintu, in a very first time I saw him, I know this gonnna be something.
3 detik tersentak, semua pasang mata mengalihkan pandangannya pada pria yang baru saja memasuki ruangan ini. kemudian sang moderator kembali merebut perhatian para penonton, tetapi tidak dengan aku.
tak pernah bisa ku lepaskan pandanganku pada pria yang baru saja membuka pintu itu. Aku merasa ada sesuatu yang mengikatku. Koneksi, medan magnet yang menarikku atau apalah itu, yang jelas aku menyukai kehadirannya. Ia terlihat "berbeda" dengan bagaimana saat pertama kali ia muncul di hadapanku dengan memakai kemeja jeans berwarna biru tua yang dipadankan dengan kaos hitam, dan ia membiarkan kancing kemeja nya terbuka. Dari semua orang di dalam ruangan ini, dia memang bintangnya. Sejak itu, bahkan sejak pertama kali ia membuka pintu, in a very first time I saw him, I know this gonnna be something.
Waktu rasanya berhenti berputar, aku hanyut dalam duniaku. Aku menyukai bagaimana rasanya otakku tiba-tiba beku. Aku menikmati bagaimana detak jantungku melaju diluar batas normal. Sungguh, aku benar merasa seperti kerasukan candu.
Namun dari relung hati teramat dalam, entah mengapa aku merasa ada ketakutan dan kekaguman yang berbaur sekaligus menjadi satu.
Namun dari relung hati teramat dalam, entah mengapa aku merasa ada ketakutan dan kekaguman yang berbaur sekaligus menjadi satu.
"Ok, sekarang giliranmu, daf", bisik pelan moderator itu sembari memberikan microphone kepada pria yang memakai kemeja jeans-berwarna biru tua itu.
"Baiklah selamat siang semuanya. Jadi saya hanya akan berbicara soal masa depan dan ketidakpastian. Investasi memang tidak pernah memberikan kepastian, namun tentu saja ia akan mengurangi ketidakpastian. Maka di organisasi ini kami akan belajar dan saling mengajarkan tentang bisnis. Dan yang jelas saya banyak mendapat pelajaran di tempat ini. Saya banyak belajar tentang bagaimana kita memulai bisnis dengan investasi. ya, belajar.. diperlukan keberanian untuk memulai. dan tempat ini membuat saya belajar untuk berani memulai". Ucapnya lugas, dan pesonanya membius relung-relung jiwa.
"Jadi sejauh ini apakah ada yang ingin anda tanyakan?", ia bertanya dan semua orang terdiam. Ada banyak pertanyaan yang seolah mengguncang otakku. Tentang "bagaimana ada mampu meyakinkan kami bahwa bergabung disini akan mampu mengurangi ketidakpastian di masa depan?" Atau bahkan "aren't you send from heaven?" Ah jelas itu gombalan basi. Atau "tawaran apa yang akan anda berikan jika saya bergabung di organisasi ini? Apakah anda akan selalu mendampingi saya setiap waktu? Setiap saya butuh?", aduh, yang ini terdengar depresi. Atau bahkan "mungkin ini gila, tapi seperti nya saya jatuh cinta pada anda" jelas ini hal paling gila, jelas ini dluar batas lumrah. Tak ada keyakinan yang mampu membuatku mengangkat tangan untuk bertanya yang akan membuat lelaki itu akan terus berbicara menjelaskan apapun yang ada dalam isi otaknya sambil menatapku. Namun kenyataannya, aku terdiam, dan tetap saja tidak mampu memecah keheningan.
"Jadi langsung saja, jika anda berminat dan ingin bergabung di organisasi ini silahkan isi formulir yang telah di bagi oleh asisten kami"
Segera kuraih kertas putih itu, tanpa berpikir panjang ku isi formulir itu.
"Jadi kamu ikutan gabung nil? Aku kira kamu gak bakalan minat."
"Hehe I think ths gonna be amazing van. Aku tertarik buat belajar tentang bisnis dan investasi"
"Oya? Kayaknya tadi bete gitu sepanjang acara", sambar vania yang membuatku melirik lelaki berkemeja-jeans berwarna biru tua ini yang sedang berdiri di hadapanku, ia sedang berbicara sembari tersenyum kepada temannya.
"Hehehe", dan kali ini aku kehabisan kata-kata.
dan aku pun mengisi formulir itu. aku sampai pada bagian untuk menuliskan jawaban atas pertanyaan: "apa yang membuat anda tertarik bergabung bersama kami?" Sekejap, aku merasa menjadi orang paling naif diantara manusia lain di ruangan ini. Kutuliskan saja "aku ingin belajar banyak hal, walaupun tidak pernah ada jaminan atas kepastian, akan kucoba mengurangi ketidakpastian"
Kubaca lagi berulang kali kalimat yang ku tulis itu. Kata kata ini, adalah apa yang ia ucapkan tadi. Kata-kata ini seakan merasuk dalam pikiranku. Ku baca lagi berulang kali kalimat ini. Dear Perspektif, hati ini tau apa makna kalimat ini sebenarnya. Ada tujuan lain dibalik keterikatan dan ketertarikanku. Maafkan aku yang memilih menjadi munafik, alasan terbesar ku menjadi bagian dari organisasi ini hanyalah agar bisa lebih dekat dengan lelaki itu, lelaki yang datang terlambat yang mampu menghipnotisku hanya dalam 2 detik saja setelah ia membuka pintu. Aku memang telah terjatuh.
Acara telah berakhir, semua orang bergegas keluar dari ruangan.
"Nil, aku mau ke toilet dulu, agak lama nih kayaknya. Jadi kamu langsung turun aja."
"Oke, aku tunggu kamu di lobby bawah ya van", aku berjalan menuju lift sambil memeriksa pesan masuk di handphone.
Pintu lift terbuka. tak kusangka, pria berkemeja-jeans-berwarna-biru tua itu berdiri di hadapanku, ia berjalan memasuki lift. Aku berlari menyerobot memasuki lift itu. Lalu pintu lift tertutup. Dan kini kami berada dalam ruangan yang sama. Ia berdiri di sebelahku. Hening, tanpa suara. Jantungku berdebar, ingin berteriak sekencang kencangnya. Aku tersenyum dalam lamunan gila. Tapi... Aku merasa ada sepasang mata yang mengawasiku. Refleks, ku curi pandanganku. Sekejap, ternyata lelaki ini menatapku. Sekejap lalu ia menjauhkan pandangannya dariku. Pintu lift terbuka, handphone ku berdering, pesan masuk, "honey, aku jemput sekarang ya?"
Belum sempat kubalas sms ku, pria itu sudah hilang dari pandanganku.
"Nil, aku mau ke toilet dulu, agak lama nih kayaknya. Jadi kamu langsung turun aja."
"Oke, aku tunggu kamu di lobby bawah ya van", aku berjalan menuju lift sambil memeriksa pesan masuk di handphone.
Pintu lift terbuka. tak kusangka, pria berkemeja-jeans-berwarna-biru tua itu berdiri di hadapanku, ia berjalan memasuki lift. Aku berlari menyerobot memasuki lift itu. Lalu pintu lift tertutup. Dan kini kami berada dalam ruangan yang sama. Ia berdiri di sebelahku. Hening, tanpa suara. Jantungku berdebar, ingin berteriak sekencang kencangnya. Aku tersenyum dalam lamunan gila. Tapi... Aku merasa ada sepasang mata yang mengawasiku. Refleks, ku curi pandanganku. Sekejap, ternyata lelaki ini menatapku. Sekejap lalu ia menjauhkan pandangannya dariku. Pintu lift terbuka, handphone ku berdering, pesan masuk, "honey, aku jemput sekarang ya?"
Belum sempat kubalas sms ku, pria itu sudah hilang dari pandanganku.
***
"Selamat bergabung. Jadi ini acara pertama kalian resmi bergabung bersama kami. Maka langsung saja. Oh iya berhubung hari ini ketua berhalangan hadir, maka sambutan dari wakil ketua kita, Dafa Mahendra Pratama"
Oh, oke... Dafa Mahendra Pratama. This incredible 3 words is resound in my head. Stand still, mataku ini semacam kerasukan caffeine, ketagihan melihatnya berdiri di depan sana.
"Saya berharap kalian semua bisa belajar banyak disini. Jadi, karena ketua kita mendadak berhalangan hadir dan, ummm jujur saja saya belum siap dan kehabisan berbagai kata sambutan, jadi saya akan sharing mengenai banyak hal yang terjadi di hidup saya, ya... Semoga menginspirasi"
Semua orang pun bersiap untuk mendengarkannya, termasuk aku gadis penghayal dengan otak setengah miring yang duduk dihadapannya, mengaguminya dalam konteks yang tak pernah mampu dijelaskan kata-kata.
"Saya selalu merasa, keluarga adalah rumah. Dan ada saat, ketika semuanya tak lagi sama. Ayah saya pergi meninggalkan kami. Saya benar-benar merasa kehilangan. Kemudian saya sadar, sebagai satu-satunya anak lelaki di dalam keluarga, saya belum memulai apa-apa. Kesedihan berlarut-larut tidak akan pernah menyelesaikan semuanya. Waktu itu saya masih kuliah. Saya bukan tipe orang yang mudah menyia-nyiakan kesempatan. Saya selalu membuka peluang, mencoba peruntungan. Saya mengikuti kontes ini itu, dan akhirnya menang. Hadiahnya saya gunakan modal usaha. Alhamdulillah, semua nya prospek dan tidak sia-sia. Tapi, tak pernah saya menyiakan kuliah saat itu. Bisnis memang tujuan kedua, sementara kuliah adalah prioritas utama. Ada mimpi yang ingin saya capai. Ini semua merupakan bentuk investasi, bukan? Bagaimana kalian menanam benih tujuannya untuk menuai buahnya. Ayah adalah inspirasi, sementara ibu adalah semangat saya hari ini. Saya akan selalu berusaha untuk tidak akan pernah menodai masa depan saya yang masih putih. Berbisnis salah satu hal yang menawarkan berbbagai peluang itu. Jadi beruntunglah kalian bergabung di tempat ini untuk belajar tentang innvestasi dan bisnis dan di training oleh orang2 hebat yang sudah ahli di bidangnya"
Dan aku terhanyut, terbuai dalam kisah yang ia tuturkan. Ada sesuatu yang membuatku menyukai bagaimana ia mengisahkan pengalaman hidupnya dengan mata yang berkaca-kaca, aku menyukai bagaimana ekspresi wajahnya yang tegar, dan aku menyukai gaya bicaranya yang penuh kehangatan. Ada sinar, yang memancar dari dirinya. Sebentuk aura yang kilaunya menyilaukan. Sebentuk cahaya yang berbeda, yang lebih terang dari bintang lainnya. Diantara semua bintang yang bertebaran di langit gulita, dia memang bintang kejora.
Oh, oke... Dafa Mahendra Pratama. This incredible 3 words is resound in my head. Stand still, mataku ini semacam kerasukan caffeine, ketagihan melihatnya berdiri di depan sana.
"Saya berharap kalian semua bisa belajar banyak disini. Jadi, karena ketua kita mendadak berhalangan hadir dan, ummm jujur saja saya belum siap dan kehabisan berbagai kata sambutan, jadi saya akan sharing mengenai banyak hal yang terjadi di hidup saya, ya... Semoga menginspirasi"
Semua orang pun bersiap untuk mendengarkannya, termasuk aku gadis penghayal dengan otak setengah miring yang duduk dihadapannya, mengaguminya dalam konteks yang tak pernah mampu dijelaskan kata-kata.
"Saya selalu merasa, keluarga adalah rumah. Dan ada saat, ketika semuanya tak lagi sama. Ayah saya pergi meninggalkan kami. Saya benar-benar merasa kehilangan. Kemudian saya sadar, sebagai satu-satunya anak lelaki di dalam keluarga, saya belum memulai apa-apa. Kesedihan berlarut-larut tidak akan pernah menyelesaikan semuanya. Waktu itu saya masih kuliah. Saya bukan tipe orang yang mudah menyia-nyiakan kesempatan. Saya selalu membuka peluang, mencoba peruntungan. Saya mengikuti kontes ini itu, dan akhirnya menang. Hadiahnya saya gunakan modal usaha. Alhamdulillah, semua nya prospek dan tidak sia-sia. Tapi, tak pernah saya menyiakan kuliah saat itu. Bisnis memang tujuan kedua, sementara kuliah adalah prioritas utama. Ada mimpi yang ingin saya capai. Ini semua merupakan bentuk investasi, bukan? Bagaimana kalian menanam benih tujuannya untuk menuai buahnya. Ayah adalah inspirasi, sementara ibu adalah semangat saya hari ini. Saya akan selalu berusaha untuk tidak akan pernah menodai masa depan saya yang masih putih. Berbisnis salah satu hal yang menawarkan berbbagai peluang itu. Jadi beruntunglah kalian bergabung di tempat ini untuk belajar tentang innvestasi dan bisnis dan di training oleh orang2 hebat yang sudah ahli di bidangnya"
Dan aku terhanyut, terbuai dalam kisah yang ia tuturkan. Ada sesuatu yang membuatku menyukai bagaimana ia mengisahkan pengalaman hidupnya dengan mata yang berkaca-kaca, aku menyukai bagaimana ekspresi wajahnya yang tegar, dan aku menyukai gaya bicaranya yang penuh kehangatan. Ada sinar, yang memancar dari dirinya. Sebentuk aura yang kilaunya menyilaukan. Sebentuk cahaya yang berbeda, yang lebih terang dari bintang lainnya. Diantara semua bintang yang bertebaran di langit gulita, dia memang bintang kejora.
***
Perasaan bimbang menggelayuti batinku. Dan aku merasa menjadi orang yang paling menyedihkan diantara hiruk pikuk keramaian kedai kopi elit di mall pusat kota ini.
2 menit kami terdiam. Saling berhadapan tanpa bicara. Dan kemudian aku mengawali semuanya, "jadi kita harus akhiri ini semua, nic",
"Aku masih gak habis pikir sama keputusanmu nila... Sebulan terakhir ini kamu berubah. Kemana nila yang dulu?", dan aku terdiam membiarkannya terus berbicara panjang lebar.
"Kamu selalu bilang aku cowok terbaik. Kamu yang selalu cerita apapun ke aku. Kamu yg selalu ada buat aku, kamu kenapa berubah nila?"
"Perasaanku yang berubah nic", dan aku melihat raut mkanya yang kecewa. langit rasanya runtuh.
"Kamu gak sayang lagi sama aku nil? Jadi apa salahku? Bukankah aku udah selalu jadi yang terbaik? Bukankah semuanya baik-baik saja?", ucapnya meraung-raung meminta keadilan.
"iya nic...but it was before.... I met someone else..", aku merasa ada badai yang menghantam otaknya, kulihat raut muka kecewa, sedih, marah, menjadi satu melebur dan membuatku merasa sangat bersalah. Dan aku merasa pantas untuk kau guyur oleh siraman segelas coffee ice yang ada di hadapanmu, nic, but luckily I know you are one of the kind-hearted and sweetest man ever in the world, and i know you won't ever do that.
"Jadi selama ini ada orang lain? Aku gak percaya. Kamu bukan nila yang aku kenal."
"Soorry to say, nic... I do ever love you, tapi please... Hargai keputusanku. Ini untuk kebaikan kita.", lalu ia berdiri, berlalu. Meninggalkanku duduk sendiri disini. Membiarkanku meratapi semua kesalahan yang ku buat sendiri. Aku telah menghancurkan tembok besar yang kita bangun bersama-sama. Dan kin rasanya, tembok itu tidak akan pernah jadi rumah. Semuanya memang sia-sia. At least, tak kusesali semuanya. Walaupun ia adalah pria terbaik yang pernah ada, namun kita memang berbeda. Keimanan dan kepercayaan, yang menjadi penghalang besar yang akan membuat mimpi-mimpi indah itu tidak akan pernah menjadi kisah bahagia seutuhnya.
Diatas semua keputusanku untuk pergi dan mengakhiri semuanya, entah kenapa aku yakin, akan ada kisah baru yang akan aku mulai. I thought, My life will always gonna be full of surprise.
2 menit kami terdiam. Saling berhadapan tanpa bicara. Dan kemudian aku mengawali semuanya, "jadi kita harus akhiri ini semua, nic",
"Aku masih gak habis pikir sama keputusanmu nila... Sebulan terakhir ini kamu berubah. Kemana nila yang dulu?", dan aku terdiam membiarkannya terus berbicara panjang lebar.
"Kamu selalu bilang aku cowok terbaik. Kamu yang selalu cerita apapun ke aku. Kamu yg selalu ada buat aku, kamu kenapa berubah nila?"
"Perasaanku yang berubah nic", dan aku melihat raut mkanya yang kecewa. langit rasanya runtuh.
"Kamu gak sayang lagi sama aku nil? Jadi apa salahku? Bukankah aku udah selalu jadi yang terbaik? Bukankah semuanya baik-baik saja?", ucapnya meraung-raung meminta keadilan.
"iya nic...but it was before.... I met someone else..", aku merasa ada badai yang menghantam otaknya, kulihat raut muka kecewa, sedih, marah, menjadi satu melebur dan membuatku merasa sangat bersalah. Dan aku merasa pantas untuk kau guyur oleh siraman segelas coffee ice yang ada di hadapanmu, nic, but luckily I know you are one of the kind-hearted and sweetest man ever in the world, and i know you won't ever do that.
"Jadi selama ini ada orang lain? Aku gak percaya. Kamu bukan nila yang aku kenal."
"Soorry to say, nic... I do ever love you, tapi please... Hargai keputusanku. Ini untuk kebaikan kita.", lalu ia berdiri, berlalu. Meninggalkanku duduk sendiri disini. Membiarkanku meratapi semua kesalahan yang ku buat sendiri. Aku telah menghancurkan tembok besar yang kita bangun bersama-sama. Dan kin rasanya, tembok itu tidak akan pernah jadi rumah. Semuanya memang sia-sia. At least, tak kusesali semuanya. Walaupun ia adalah pria terbaik yang pernah ada, namun kita memang berbeda. Keimanan dan kepercayaan, yang menjadi penghalang besar yang akan membuat mimpi-mimpi indah itu tidak akan pernah menjadi kisah bahagia seutuhnya.
Diatas semua keputusanku untuk pergi dan mengakhiri semuanya, entah kenapa aku yakin, akan ada kisah baru yang akan aku mulai. I thought, My life will always gonna be full of surprise.
***
Semua orang berpakaian rapi. Berkumpul di tempat yang sama untuk mengikuti training tahap kedua ini.
"Wew, kamu kok keliatan beda hari ini nil? Ciyeee rambut baru. Tas baru, terus ini kenapa blazer sama sepatu matching warna pink gini? Oh my god, wait wait... Kamu pake maskara? Ya ampun nila kamu gak pernah pake make-up sebelumnya. Kamu kerasukan apa? You are seriously makin oke aja semenjak putus sama nico.", ucap vania yang membuat beberapa orang wanita di sebelahku ikut memperhatikan penampilanku. Dan terlalu munafik rasanya jika tidak mengakui saja bahwa everything new that I wear and I do is to attracted someone's eye.
"Huss, jangan heboh ah.. Malu-malu in aja sih. Yuk masuk acara mau dimulai tuh kayaknya.".
"Wew, kamu kok keliatan beda hari ini nil? Ciyeee rambut baru. Tas baru, terus ini kenapa blazer sama sepatu matching warna pink gini? Oh my god, wait wait... Kamu pake maskara? Ya ampun nila kamu gak pernah pake make-up sebelumnya. Kamu kerasukan apa? You are seriously makin oke aja semenjak putus sama nico.", ucap vania yang membuat beberapa orang wanita di sebelahku ikut memperhatikan penampilanku. Dan terlalu munafik rasanya jika tidak mengakui saja bahwa everything new that I wear and I do is to attracted someone's eye.
"Huss, jangan heboh ah.. Malu-malu in aja sih. Yuk masuk acara mau dimulai tuh kayaknya.".
Hampir satu jam berselang, tak kulihat dafa. Padanganku berkeliaran kemana-mana. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya ke vania, "eh van... Mas dafa kok gak keliatan ya?", bisikku memastikan tidak ada yang mendengar pertanyaanku ini.
"Oh mas dafa.. Katanya sih dia pergi", dan aku pun tersentak
"Pergi? Pergi kemana?", tanyaku cemas.
"Ke U.S. Dapet beasiswa S2 di business school har.."
"Harvard?"
"Iya! Harvard."
"Gila," satu kata yang keluar dari mulutku.
"Oh mas dafa.. Katanya sih dia pergi", dan aku pun tersentak
"Pergi? Pergi kemana?", tanyaku cemas.
"Ke U.S. Dapet beasiswa S2 di business school har.."
"Harvard?"
"Iya! Harvard."
"Gila," satu kata yang keluar dari mulutku.
Tak percaya bercampur baur bersama kecewa. Ada rasa bangga, yang seharusnya tak perlu kucampur adukkan dengan rasa nelangsa.
Pria ini benar-benar sedang dalam pendakian mewujudkan mimpi-mimpinya.
Kecewa berkecamuk di dalam dada, karena sejauh ini aku tak pernah melakukan apa2, bahkan walau hanya untuk sekedar mencuri perhatiannya, aku mengaguminya, dalam diam yang tidak pernah memecah keheningan malam. Dan kali ini, sinarnya semakin benderang, semakin menjauh semakin membuatku tenggelam dalam angan-angan. aku telah kehilangan kesempatan. Rasa sesal mengoyak relung-relung batinku yang hampa. Ia akan mengenalku hanya sebagai anggota pasif di tempat dimana ia tumbuh menjadi hebat. Lalu, Bagaimana nasib asa ku yang merelakan semuanya hilang dan pergi dan kuyakini akan diiganti dengan sesuatu yang lebih hebat dari ini? bagaimana akan ku bayar semuanya, dewi fortuna? Walau disisi lain Aku selalu yakin keberuntunganku tak akan pernah ada habisnya.
Aku rasa aku tak akan pernah mampu merengkuh bintang kejora kecuali aku memiliki sinar yang sama terangnya untuk pantas bersanding bersamanya diatas sana.
As you ever say mas, sedih berlarut-larut tidak akan menyelesaikan semuanya.
Takdir tidak pernah mempertemukan ku dengan orang yang salah. My life full of blessed. Dan ketika aku kehilangan satu, aku tidak akan rela membiarkann yang lainnya pergi begitu dari hidupku. Kau memberiku pelajaran, motivasi, menghidupkan lagi mimpi-mimpi yang sedang mati suri.
I ever say, my life is always full of surprise. I'm gonna surprise you, mas dafa. Kuambil pena dan notes kesayangan. Kemudiann kutuliskan:
Pria ini benar-benar sedang dalam pendakian mewujudkan mimpi-mimpinya.
Kecewa berkecamuk di dalam dada, karena sejauh ini aku tak pernah melakukan apa2, bahkan walau hanya untuk sekedar mencuri perhatiannya, aku mengaguminya, dalam diam yang tidak pernah memecah keheningan malam. Dan kali ini, sinarnya semakin benderang, semakin menjauh semakin membuatku tenggelam dalam angan-angan. aku telah kehilangan kesempatan. Rasa sesal mengoyak relung-relung batinku yang hampa. Ia akan mengenalku hanya sebagai anggota pasif di tempat dimana ia tumbuh menjadi hebat. Lalu, Bagaimana nasib asa ku yang merelakan semuanya hilang dan pergi dan kuyakini akan diiganti dengan sesuatu yang lebih hebat dari ini? bagaimana akan ku bayar semuanya, dewi fortuna? Walau disisi lain Aku selalu yakin keberuntunganku tak akan pernah ada habisnya.
Aku rasa aku tak akan pernah mampu merengkuh bintang kejora kecuali aku memiliki sinar yang sama terangnya untuk pantas bersanding bersamanya diatas sana.
As you ever say mas, sedih berlarut-larut tidak akan menyelesaikan semuanya.
Takdir tidak pernah mempertemukan ku dengan orang yang salah. My life full of blessed. Dan ketika aku kehilangan satu, aku tidak akan rela membiarkann yang lainnya pergi begitu dari hidupku. Kau memberiku pelajaran, motivasi, menghidupkan lagi mimpi-mimpi yang sedang mati suri.
I ever say, my life is always full of surprise. I'm gonna surprise you, mas dafa. Kuambil pena dan notes kesayangan. Kemudiann kutuliskan:
"Next target: Harvard university school of business".
(Sound playing: I know I Loved you by Savage Garden)
*****************
And I'm wondering
What If...
time machine
Can bring me back to the moment
And give me a second chance
To falling in love
At the first sight
With the same person
What If...
time machine
Can bring me back to the moment
And give me a second chance
To falling in love
At the first sight
With the same person
(Aku terhanyut dalam lorong-lorong hitam
Tubuhku tergoncang
Kulihat semesta berputar seperti spiral
Serangkaian momen lama terekam dalam bayangan.
Dan ternyata..)
Tubuhku tergoncang
Kulihat semesta berputar seperti spiral
Serangkaian momen lama terekam dalam bayangan.
Dan ternyata..)
Dimensi Dua
Satu dua tiga orang berbicara. Tentang isu yang berkembang saat ini, tentang motivasi, tentang janji-janji yang dijejali kata-kata persuasif. Tentang tawar menawar semacam: "berinvestasilah, belajarlah dan bergabunglah bersama kami, organisasi ini tidak akan membuat kalian merasa rugi. Tidak akan rugi".
Dan aku pun tak tau, angin apa yang membawaku kesini, kecuali untuk menemani vania. Ia memang menyukai hal-hal yang berbau bisnis, investasi dan semacamnya, saking antusiasnya dia membawaku duduk di barisan kedua dari depan. Aku juga tak percaya aku mampu bertahan berlama-lama hanya untuk duduk mendengarkan motivator atau lebih tepatnya marketeer ini berbicara. Walau sebenarnya tak pernah aku terkesima tentang bualan mereka soal prospek investasi ini itu.
Semua perhatian teralihkan saat gagang pintu itu bergerak,
"maaf aku terlambat. Jalanan macet"
3 detik tersentak, semua pasang mata mengalihkan pandangannya pada pria yang baru saja memasuki ruangan ini. kemudian sang moderator kembali merebut perhatian para penonton, tetapi tidak dengan aku.
tak pernah bisa ku lepaskan pandanganku pada pria yang baru saja membuka pintu itu. Aku merasa ada sesuatu yang mengikatku. Koneksi, medan magnet yang menarikku atau apalah itu, yang jelas aku menyukai kehadirannya. Ia terlihat "berbeda" dengan bagaimana saat pertama kali ia muncul di hadapanku dengan memakai kemeja jeans berwarna biru tua yang dipadankan dengan kaos hitam, dan ia membiarkan kanciing kemeja nya terbuka. Dari semua orang di dalam ruangan ini, dia memang bintangnya.
3 detik tersentak, semua pasang mata mengalihkan pandangannya pada pria yang baru saja memasuki ruangan ini. kemudian sang moderator kembali merebut perhatian para penonton, tetapi tidak dengan aku.
tak pernah bisa ku lepaskan pandanganku pada pria yang baru saja membuka pintu itu. Aku merasa ada sesuatu yang mengikatku. Koneksi, medan magnet yang menarikku atau apalah itu, yang jelas aku menyukai kehadirannya. Ia terlihat "berbeda" dengan bagaimana saat pertama kali ia muncul di hadapanku dengan memakai kemeja jeans berwarna biru tua yang dipadankan dengan kaos hitam, dan ia membiarkan kanciing kemeja nya terbuka. Dari semua orang di dalam ruangan ini, dia memang bintangnya.
Sejak itu, bahkan sejak pertama kali ia membuka pintu, in a very first time I saw him, I know this is gonnna be something. Waktu rasanya berhenti berputar, aku hanyut dalam duniaku. Aku menyukai bagaimana rasanya otakku tiba-tiba beku. Aku menikmati bagaimana detak jantungku melaju diluar batas normal. Sungguh, aku benar merasa seperti kerasukan candu.
Namun dari relung hati teramat dalam, entah mengapa aku merasa ada ketakutan dan kekaguman yang berbaur sekaligus menjadi satu.
Namun dari relung hati teramat dalam, entah mengapa aku merasa ada ketakutan dan kekaguman yang berbaur sekaligus menjadi satu.
"Ok, sekarang giliranmu, daf", bisik pelan moderator itu sembari memberikan micrphone kepada pria yang memakai kemeja jeans-berwarna biru tua itu.
"Baiklah selamat siang semuanya. Jadi saya hanya akan berbicara soal masa depan dan ketidakpastian. Investasi memang tidak pernah memberikan kepastian, namun tentu saja ia akan mengurangi ketidakpastian. Saya banyak belajar tentang bagaimana kita memulai bisnis dengan investasi. ya, belajar.. diperlukan keberanian untuk memulai. dan tempat ini membuat saya belajar untuk berani memulai". Ucapnya lugas, dan pesonanya membius relung-relung jiwa.
"Jadi sejauh ini apakah ada yang ingin anda tanyakan?", ia bertanya dan semua orang terdiam. Ada banyak pertanyaan yang seolah mengguncang otakku. Dan kemudian aku memberanikan diri untuk mengangkat tanganku, pandangannya teralihkan kepadaku. Dan aku pun, setengah mati meredam detak jantungku yang berpacu cepat tak terkendali. Ku tarik napas dalam-dalam, dan kemudian aku berbicara "bagaimana anda mampu meyakinkan kami bahwa bergabung disini akan mampu mengurangi ketidakpastian di masa depan?", seketika aku tak menyangka aku berhasil menuturkan pertanyaan itu.
Kemudian ia tersenyum menatapku. Dan ia pun menjawab. "You'll never know what tommorow brings. Saya tidak akan pernah mampu menjelaskan bagaimana saya akan menjamin kepastian akan masa depan anda. Mencoba hal-hal baru yang positif selalu akan berdampak baik bukan? Sebaik mana dampak itu pada hidup anda itu tergantung dengan sejauh mana anda berkontribusi dan mampu mengapresiasi pencapaian anda", kemudian ia tersenyum. Ia menatapku di sepanjang ia berbicara. Seperti busur panah yang menghujamku, perkataan itu, senyum dan pandangan matanya seperti suntikan energi merasuki relung-relungku.
Kemudian ia tersenyum menatapku. Dan ia pun menjawab. "You'll never know what tommorow brings. Saya tidak akan pernah mampu menjelaskan bagaimana saya akan menjamin kepastian akan masa depan anda. Mencoba hal-hal baru yang positif selalu akan berdampak baik bukan? Sebaik mana dampak itu pada hidup anda itu tergantung dengan sejauh mana anda berkontribusi dan mampu mengapresiasi pencapaian anda", kemudian ia tersenyum. Ia menatapku di sepanjang ia berbicara. Seperti busur panah yang menghujamku, perkataan itu, senyum dan pandangan matanya seperti suntikan energi merasuki relung-relungku.
"Jadi langsung saja, jika anda berminat dan ingin bergabung di organisasi ini silahkan isi formulir yang telah di bagi oleh asisten kami"
Segera kuraih kertas putih itu, tanpa berpikir panjang ku isi formulir itu.
"Jadi kamu ikutan gabung nil? Aku kira kamu gak bakalan minat."
"Hehe I think this is gonna be amazing, van. Aku tertarik buat belajar tentang bisnis dan investasi"
"Hmm iya deh percaya", sambar vania yang membuatku melirik lelaki berkemeja-jeans berwarna biru tua ini yang sedang berdiri di hadapanku, ia sedang berbicara sembari tersenyum kepada temannya.
Segera kuraih kertas putih itu, tanpa berpikir panjang ku isi formulir itu.
"Jadi kamu ikutan gabung nil? Aku kira kamu gak bakalan minat."
"Hehe I think this is gonna be amazing, van. Aku tertarik buat belajar tentang bisnis dan investasi"
"Hmm iya deh percaya", sambar vania yang membuatku melirik lelaki berkemeja-jeans berwarna biru tua ini yang sedang berdiri di hadapanku, ia sedang berbicara sembari tersenyum kepada temannya.
aku memulai mengisi formulir itu. aku sampai pada bagian untuk menuliskan jawaban atas pertanyaan: "apa yang membuat anda tertarik bergabung bersama kami?" Kutuliskan saja "aku ingin belajar banyak hal, aku akan menjadi bagian dari organisasi ini dan mengeksplorasi kemampuanku", walau aku merasa mungkin aku adalah manusia paling naif diantara manusia lain di ruangan ini.
Ada tujuan lain dibalik keterikatan dan ketertarikanku. Maafkan aku yang memilih menjadi munafik, alasan terbesar ku menjadi bagian dari organisasi ini hanyalah agar bisa lebih dekat dengan lelaki itu, lelaki yang datang terlambat yang mampu menghipnotisku hanya dalam 2 detik saja setelah ia membuka pintu. Aku memang telah terjatuh.
Acara telah berakhir, semua orang bergegas keluar dari ruangan.
"Nil, aku mau ke toilet dulu, agak lama nih kayaknya. Jadi kamu langsung turun aja."
"Oke, aku tunggu kamu di lobby bawah ya van", aku berjalan menuju lift sambil memeriksa pesan masuk di handphone.
Pintu lift terbuka. tak kusangka, pria berkemeja-jeans-berwarna-biru tua itu berdiri di hadapanku, ia berjalan memasuki lift. Aku berlari menyerobot memasuki lift itu. Lalu pintu lift tertutup. Dan kini kami berada dalam ruangan yang sama. Ia berdiri di sebelahku. Hening, tanpa suara. Jantungku berdebar, ingin berteriak sekencang kencangnya. Dan kemudian aku meliriknya, ia tersenyum kepadaku. Kemudian dengan refleks aku berkata, "hai", dan kemudian ia tersenyum lagi kepadaku. Kemudian pintu lift terbuka. Kami berjalan beriringan. "Jadi gimana, kamu memilih bergabung?", tanyanya sekejap membuatku terbang menembus awang-awang. "Iya. Aku memutuskan untuk ikut bergabung kok, mas. Hmm, kenalin.. Nila..", aku berbicara kepadanya sembari mengisyaratkan untuk berjabat tangan. Ia meraih tanganku. Betapa aku merasa terhanyut dalam momen itu, bahkann aku mampu merasakan sentuhan telapak tangannya yang dingin. "Aku dafa..", kemudian ia tersenyum hangat. Kemudian handphoneku berdering, pesan masuk.
Belum sempat kubuka sms ku, kemudian dafa berkata , "aku duluan ya.." Dan aku pun mengaggukkan kepala. Aku terdiam, dan terpaku. Aku merasa dunia berhenti berputar seiring aku melihat sosoknya berjalan menjauh, meninggalkanku.
Kubuka hanpdhone dan kucek pesan masuk itu: "honey, aku jemput sekarang ya?"
"Nil, aku mau ke toilet dulu, agak lama nih kayaknya. Jadi kamu langsung turun aja."
"Oke, aku tunggu kamu di lobby bawah ya van", aku berjalan menuju lift sambil memeriksa pesan masuk di handphone.
Pintu lift terbuka. tak kusangka, pria berkemeja-jeans-berwarna-biru tua itu berdiri di hadapanku, ia berjalan memasuki lift. Aku berlari menyerobot memasuki lift itu. Lalu pintu lift tertutup. Dan kini kami berada dalam ruangan yang sama. Ia berdiri di sebelahku. Hening, tanpa suara. Jantungku berdebar, ingin berteriak sekencang kencangnya. Dan kemudian aku meliriknya, ia tersenyum kepadaku. Kemudian dengan refleks aku berkata, "hai", dan kemudian ia tersenyum lagi kepadaku. Kemudian pintu lift terbuka. Kami berjalan beriringan. "Jadi gimana, kamu memilih bergabung?", tanyanya sekejap membuatku terbang menembus awang-awang. "Iya. Aku memutuskan untuk ikut bergabung kok, mas. Hmm, kenalin.. Nila..", aku berbicara kepadanya sembari mengisyaratkan untuk berjabat tangan. Ia meraih tanganku. Betapa aku merasa terhanyut dalam momen itu, bahkann aku mampu merasakan sentuhan telapak tangannya yang dingin. "Aku dafa..", kemudian ia tersenyum hangat. Kemudian handphoneku berdering, pesan masuk.
Belum sempat kubuka sms ku, kemudian dafa berkata , "aku duluan ya.." Dan aku pun mengaggukkan kepala. Aku terdiam, dan terpaku. Aku merasa dunia berhenti berputar seiring aku melihat sosoknya berjalan menjauh, meninggalkanku.
Kubuka hanpdhone dan kucek pesan masuk itu: "honey, aku jemput sekarang ya?"
***
"Selamat bergabung. Jadi ini acara pertama kalian resmi bergabung bersama kami. Maka langsung saja. Oh iya berhubung hari ini ketua berhalangan hadir, maka sambutan dari wakil ketua kita, Dafa Mahendra Pratama"
Oh, oke... Dafa, in a very specific word: Dafa Mahendra Pratama. This incredible 3 words is resound in my head. Stand still, mataku ini semacam kerasukan caffeine, ketagihan melihatnya berdiri di depan sana.
"Saya berharap kalian semua bisa belajar banyak disini. Jadi, karena ketua kita mendadak berhalangan hadir dan, ummm jujur saja saya belum siap dan kehabisan berbagai kata sambutan, jadi saya akan sharing mengenai banyak hal yang terjadi di hidup saya, ya... Semoga menginspirasi"
Semua orang pun bersiap untuk mendengarkannya, termasuk aku gadis penghayal dengan otak setengah miring yang duduk dihadapannya, mengaguminya dalam konteks yang tak pernah mampu dijelaskan kata-kata.
Oh, oke... Dafa, in a very specific word: Dafa Mahendra Pratama. This incredible 3 words is resound in my head. Stand still, mataku ini semacam kerasukan caffeine, ketagihan melihatnya berdiri di depan sana.
"Saya berharap kalian semua bisa belajar banyak disini. Jadi, karena ketua kita mendadak berhalangan hadir dan, ummm jujur saja saya belum siap dan kehabisan berbagai kata sambutan, jadi saya akan sharing mengenai banyak hal yang terjadi di hidup saya, ya... Semoga menginspirasi"
Semua orang pun bersiap untuk mendengarkannya, termasuk aku gadis penghayal dengan otak setengah miring yang duduk dihadapannya, mengaguminya dalam konteks yang tak pernah mampu dijelaskan kata-kata.
"Saya selalu merasa, keluarga adalah rumah. Dan ada saat, ketika semuanya tak lagi sama. Ayah saya pergi meninggalkan kami. Saya benar-benar merasa kehilangan. Kemudian saya sadar, sebagai satu-satunya anak lelaki di dalam keluarga, saya belum memulai apa-apa. Kesedihan berlarut-larut tidak akan pernah menyelesaikan semuanya. Waktu itu saya masih kuliah. Saya bukan tipe orang yang mudah menyia-nyiakan kesempatan. Saya selalu membuka peluang, mencoba peruntungan. Saya mengikuti kontes ini itu, dan akhirnya menang. Hadiahnya saya gunakan modal usaha. Alhamdulillah, semua nya prospek dan tidak sia-sia. Tapi, tak pernah saya menyiakan kuliah saat itu. Bisnis memang tujuan kedua, sementara kuliah adalah prioritas utama. Ada mimpi yang ingin saya capai. Ini semua merupakan bentuk investasi, bukan? Bagaimana kalian menanam benih tujuannya untuk menuai buahnya. Ayah adalah inspirasi, sementara ibu adalah semangat saya hari ini. Saya akan selalu berusaha untuk tidak akan pernah menodai masa depan saya yang masih putih. Berbisnis salah satu hal yang menawarkan berbbagai peluang itu. Jadi beruntunglah kalian bergabung di tempat ini untuk belajar tentang innvestasi dan bisnis dan di training oleh orang2 hebat yang sudah ahli di bidangnya"
Dan aku terhanyut, terbuai dalam kisah yang ia tuturkan. Ada sesuatu yang membuatku menyukai bagaimana ia mengisahkan pengalaman hidupnya dengan mata yang berkaca-kaca, aku menyukai bagaimana ekspresi wajahnya yang tegar, dan aku menyukai gaya bicaranya yang penuh kehangatan. Ada sinar, yang memancar dari dirinya. Sebentuk aura yang kilaunya menyilaukan. Sebentuk cahaya yang berbeda, yang lebih terang dari bintang lainnya. Diantara semua bintang yang bertebaran di langit gulita, dia memang bintang kejora.
***
Perasaan bimbang menggelayuti batinku. Dan aku merasa menjadi orang yang paling menyedihkan diantara hiruk pikuk keramaian kedai kopi elit di mall pusat kota ini.
2 menit kami terdiam. Saling berhadapan tanpa bicara. Dan kemudian aku mengawali semuanya, "jadi kita harus akhiri ini semua, nic",
"Aku masih gak habis pikir sama keputusanmu nila... Sebulan terakhir ini kamu berubah. Kemana nila yang dulu?", dan aku terdiam membiarkannya terus berbicara panjang lebar.
"Kamu selalu bilang aku cowok terbaik. Kamu yang selalu cerita apapun ke aku. Kamu yg selalu ada buat aku, kamu kenapa berubah nila?"
"Perasaanku yang berubah nic", dan aku melihat raut mkanya yang kecewa. langit rasanya runtuh.
"Kamu gak sayang lagi sama aku nil? Jadi apa salahku? Bukankah aku udah selalu jadi yang terbaik? Bukankah semuanya baik-baik saja?", ucapnya meraung-raung meminta keadilan.
"iya nic...but it was before.... I met someone else..", aku merasa ada badai yang menghantam otaknya, kulihat raut muka kecewa, sedih, marah, menjadi satu melebur dan membuatku merasa sangat bersalah. Dan aku merasa pantas untuk kau guyur oleh siraman segelas coffe ice yang ada di hadapanmu, nic, but luckily I know you are one of the kind-hearted and sweetest man ever in the world, and i know you won't ever do that.
"Jadi selama ini ada orang lain? Aku gak percaya. Kamu bukan nila yang aku kenal."
"Soorry to say, nic... I do ever love you, tapi please... Hargai keputusanku. Ini untuk kebaikan kita.", lalu ia berdiri, berlalu. Meninggalkanku duduk sendiri disini. Membiarkanku meratapi semua kesalahan yang ku buat sendiri.
2 menit kami terdiam. Saling berhadapan tanpa bicara. Dan kemudian aku mengawali semuanya, "jadi kita harus akhiri ini semua, nic",
"Aku masih gak habis pikir sama keputusanmu nila... Sebulan terakhir ini kamu berubah. Kemana nila yang dulu?", dan aku terdiam membiarkannya terus berbicara panjang lebar.
"Kamu selalu bilang aku cowok terbaik. Kamu yang selalu cerita apapun ke aku. Kamu yg selalu ada buat aku, kamu kenapa berubah nila?"
"Perasaanku yang berubah nic", dan aku melihat raut mkanya yang kecewa. langit rasanya runtuh.
"Kamu gak sayang lagi sama aku nil? Jadi apa salahku? Bukankah aku udah selalu jadi yang terbaik? Bukankah semuanya baik-baik saja?", ucapnya meraung-raung meminta keadilan.
"iya nic...but it was before.... I met someone else..", aku merasa ada badai yang menghantam otaknya, kulihat raut muka kecewa, sedih, marah, menjadi satu melebur dan membuatku merasa sangat bersalah. Dan aku merasa pantas untuk kau guyur oleh siraman segelas coffe ice yang ada di hadapanmu, nic, but luckily I know you are one of the kind-hearted and sweetest man ever in the world, and i know you won't ever do that.
"Jadi selama ini ada orang lain? Aku gak percaya. Kamu bukan nila yang aku kenal."
"Soorry to say, nic... I do ever love you, tapi please... Hargai keputusanku. Ini untuk kebaikan kita.", lalu ia berdiri, berlalu. Meninggalkanku duduk sendiri disini. Membiarkanku meratapi semua kesalahan yang ku buat sendiri.
Aku telah menghancurkan tembok besar yang kita bangun bersama-sama. Dan kin rasanya, tembok itu tidak akan pernah jadi rumah. Semuanya memang sia-sia. At least, tak kusesali semuanya. Walaupun ia adalah pria terbaik yang pernah ada, namun kita memang berbeda. Keimanan dan kepercayaan, yang menjadi penghalang besar yang akan membuat mimpi-mimpi indah itu tidak akan pernah menjadi kisah bahagia seutuhnya.
Diatas semua keputusanku untuk pergi dan mengakhiri semuanya, entah kenapa aku yakin, akan ada kisah baru yang akan aku mulai. I thought, My life will always gonna be full of surprise.
Diatas semua keputusanku untuk pergi dan mengakhiri semuanya, entah kenapa aku yakin, akan ada kisah baru yang akan aku mulai. I thought, My life will always gonna be full of surprise.
***
Semua orang berpakaian rapi. Berkumpul di tempat yang sama untuk mengikuti training tahap kedua ini.
"Wow, kamu kok keliatan beda hari ini nil? Ciyeee rambut baru. Tas baru, terus ini kenapa blazer sama sepatu matching warna pink gini? Oh my god, wait wait... Kamu pake maskara? Ya aampun nila kamu gak pernah pake makeup sebelumnya. Kamu kerasukan apa? You are seriously makin oke aja semenjak putus sama nico. ", ucap vania yang membuat beberapa orang wanita di sebelahku ikut memperhatikan penampilanku. Dan terlalu munafik rasanya jika tidak mengakui saja bahwa everything new that I wear and I do is to attracted someone's eye.
"Wow, kamu kok keliatan beda hari ini nil? Ciyeee rambut baru. Tas baru, terus ini kenapa blazer sama sepatu matching warna pink gini? Oh my god, wait wait... Kamu pake maskara? Ya aampun nila kamu gak pernah pake makeup sebelumnya. Kamu kerasukan apa? You are seriously makin oke aja semenjak putus sama nico. ", ucap vania yang membuat beberapa orang wanita di sebelahku ikut memperhatikan penampilanku. Dan terlalu munafik rasanya jika tidak mengakui saja bahwa everything new that I wear and I do is to attracted someone's eye.
"Huss, jangan heboh ah.. Malu-malu in aja sih. Yuk masuk acara mau dimulai tuh kayaknya.".
Hampir satu jam berselang, tak kulihat dafa. Padanganku berkeliaran kemana-mana. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya ke vania, "eh van... Mas dafa kok gak keliatan ya?", bisikku memastikan tidak ada yang mendengar pertanyaanku ini.
"Oh mas dafa.. Katanya sih dia pergi", dan aku pun tersentak
"Pergi? Pergi kemana?", tanyaku cemas.
"Ke U.S. Dapet beasiswa S2 di business school har.."
"Harvard?"
"Iya! Harvard."
"Gila," satu kata yang keluar dari mulutku.
Tak percaya bercampur baur bersama kecewa. Ada rasa bangga, yang seharusnya tak perlu kucampur adukkan dengan rasa nelangsa.
Pria ini benar-benar sedang dalam pendakian mewujudkan mimpi-mimpinya.
Kecewa berkecamuk di dalam dada, karena sejauh ini aku belum melakukan apa2. Kuambil buku pedoman yang berisi data dan kontak pribadi pengurus dan panitia. kuraih handphone ku.
Pria ini benar-benar sedang dalam pendakian mewujudkan mimpi-mimpinya.
Kecewa berkecamuk di dalam dada, karena sejauh ini aku belum melakukan apa2. Kuambil buku pedoman yang berisi data dan kontak pribadi pengurus dan panitia. kuraih handphone ku.
"Selamat ya mas, aku dengar kamu sedang belajar di Harvard. Stay healthy and be happy. Semoga kamu bisa mewujudkan mimpi mu.
-nila-"
-nila-"
Send
Dan kemudian aku tersadar bahwa aku memang benar-benar mengaguminya, dalam diam yang tidak pernah memecah keheningan malam.
Dan kali ini, sinarnya semakin benderang, semakin menjauh semakin membuatku tenggelam dalam angan-angan.
Aku memang telah kehilangan kesempatan. Rasa sesal mengoyak relung-relung batinku yang hampa. Ia akan mengenalku hanya sebagai nila, gadis baru yang ia kenal beberapa bulan lalu di tempat dimana ia tumbuh menjadi hebat.
Lalu, Bagaimana nasib asa ku yang merelakan semuanya hilang dan pergi dan kuyakini akan diiganti dengan sesuatu yang lebih hebat dari ini? bagaimana akan ku bayar semuanya, dewi fortuna?
Walau disisi lain Aku selalu yakin keberuntunganku tak akan pernah ada habisnya.
Aku rasa aku tak akan pernah mampu merengkuh bintang kejora kecuali aku memiliki sinar yang sama terangnya untuk pantas bersanding bersamanya diatas sana.
As you ever say mas, sedih berlarut-larut tidak akan menyelesaikan semuanya. But in this part of this story, aku tidak pernah menyesali semuanya. Tidak ada yang pernah bisa diubah, but at least aku telah berusaha.
Dering handphone membangunkanku di tengah malam. New message from mas dafa:
"Thanks for your support, nila... :)"
Takdir tidak pernah mempertemukan ku dengan orang yang salah. My life full of blessed. Dan ketika aku kehilangan satu, aku tidak akan rela membiarkann yang lainnya pergi begitu dari hidupku. Kau memberiku pelajaran, motivasi, menghidupkan lagi mimpi-mimpi yang sedang mati suri. I ever say, my life is always full of surprise. I'm gonna surprise you, mas dafa. Kuambil pena dan notes kesayangan. Kemudiann kutuliskan:
"Next target: Harvard university school of business".
(Sound playing: I know I loved You by Savage Garden)
***
Tidak akan ada yang bisa berubah
Walau mesin waktu
Mampu membawaku kembali ke masa lalu
Tidak akan ada yang bisa berubah,
Karena yang berbeda hanyalah
Aku berusaha
Melakukan yang terbaik dalam setiap dimensi yang ia bawa
Atau...
Aku melewatkan
semua kesempatan dan terbuang sia-sia
Maka kali ini,
Tak lagi kusiakan waktu.
Akan kuselamatkan masa depanku.
(Sound playing: Himalaya by Maliq and D'Essentials)
Lalu, Bagaimana kisah ini akan bermuara?
So let's just wait and see, while I'm in process to make a story.
So let's just wait and see, while I'm in process to make a story.
:)
No comments:
Post a Comment