Monday, 23 April 2018

Dialog antara Pencipta dengan HambaNya

- Dialog antara Pencipta dengan HambaNya -
oleh: Elin Angelia

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (Q.S. Al Baqarah: 164)

Di dalam Al Quran, Allah seringkali menyindir manusia dengan berbagai kalimat perintah untuk berpikir, misalnya;
Afalaa ta’lamuun (apa kamu gak tau?)
Afalaa tub’shiruun (apa kamu gak liat?)
Afalaa tatafakkaruun (apa kamu gak mikir?)
Afalaa tatadabbaruun (apa kamu gak teliti?)
Afaala ta’qiluun (apa kamu gak telaah?)
Afalaa tasma’uun (apa kamu gak denger?)
Afalaa tub’shiruun (apa kamu gak liat?)
Afalaa tatafakkaruun (apa kamu gak mikir?)
Afalaa tatadabbaruun (apa kamu gak teliti?)
Afaala ta’qiluun (apa kamu gak telaah?)
Afalaa tasma’uun (apa kamu gak denger?)

Dan apabila kita pahami maknanya,
Bahwasanya, ini semua adalah dialog antara pencipta dengan hamba-Nya untuk menunjukkan kebesaranNya.
Bahwasanya, ini semua adalah cara Allah berkomunikasi dengan makhluk-Nya untuk menunjukkan keagungan-Nya.

Pernah gak sih kamu membuka mata, melihat dunia untuk sejenak saja terbesit, "adakah sosok yang tak ada dalam ketiadaan-Nya?"

Pernah gak sih kamu berpikir, bagaimana bisa matahari terbit dan tenggelam untuk kemudian muncul siang dan malam, siklus yang sama ini berulang setiap harinya... pernah gak sih kamu bertanya, bagaimana mungkin tak ada yang mengendalikan semuanya?

Pernah gak sih kamu bertanya, bagaimana mungkin hewan-hewan yang hidup di hutan, semut-semut kecil yang menjalar di pepohonan, ikan-ikan yang berenang di lautan dapat hidup dan berkembang dengan baik? pernah gak sih kamu berpikir, bagaimana mungkin alam raya ini terpelihara jika tak ada yang merawatnya?

Pernah gak sih kamu menganalisa, bagaimana bisa manusia tercipta sedemikian sempurna, siapa yang menciptanya? jika teori evolusi adalah jawabannya, pernahkah logikamu bertanya jika manusia adalah evolusi dari kera, bagaimana mungkin ketika manusia tercipta, kera tak enyah? Kera masih saja hidup saat ini, pun mereka tak menunjukkan gejala evolusi sama sekali. apa benar manusia produk evolusi? atau bahkan ada yang mencipta manusia-manusia itu sendiri?

Bukankah seharusnya memang ada sesuatu yang ada dalam ketiadaan-Nya?

Maka dalam kesempurnaan yang tercipta dalam seperangkat tubuh manusia, akal adalah sebuah anugerah. Akal dicipta agar manusia berpikir dan mengenalNya tanpa perlu Ia menjelaskan siapa diriNya, tanpa perlu Ia tunjukkan sosokNya. Karena tak akan pernah ada kata-kata yang mampu melukiskan kesempurnaaNya. Tak akan ada satu hal pun di dunia ini yang sebanding dengan keagunganNya.

Dan tentang bagaimana sosok-Nya, logika ku menjawab bahwa yang jelas Ia tak sebanding dengan apa-apa yang Ia cipta. Ia tak akan pernah mampu diserupakan dengan segalanya. Ia sempurna, Ia tunggal, tak serupa manusia, pun tak beranak dan diperanakkan. pun tak menjelma dalam bentuk anak Tuhan. Ia berbeda dari apapun yg ada di dunia, karena setitik saja kesamaan, tak akan pernah membuat-Nya luar biasa.

(24/4/18 renungan di atas meja kerja)

No comments:

Post a Comment