hello dear brothers and sisters
sebelumnya, aku sampaikan thank you very much sudah meluangkan waktu sudah berkunjung ke blog ini dan membaca tulisan-tulisanku :)
and i'm back with the most favorite series on my blog: LOGIKA KEIMANAN by Elin Angelia
ini adalah post LOGIKA KEIMANAN kedua yang aku tulis setelah sebelumnya, aku sudah pernah merilis LOGIKA KEIMANAN #1 - Mengapa Yesus Harus Turun Lagi Ke Bumi?
(read it also ya)
sudahi basa-basi ini,
so here we come with the content~~
***
LOGIKA KEIMANAN - #2 Kaum Pilihan
Isu agama seolah menjadi hal yang sangat sensitif untuk dibahas.
Problema mayoritas diatas minoritas serta masalah kesenjangan dan ketidakadilan memicu konflik yang mengakar dan berkepanjangan.
and I'm sad...
Rumahku sedang berguncang.
Kita tidak pernah memilih untuk terlahir sebagai rasis apa,
pun,
Kita tidak pernah diberi pilihan untuk terlahir di keluarga mana dan beragama apa,
it's okay to be different.
kita semua terlahir dalam pluralisme sejak sangat lama.
berbeda-beda namun tetap satu jua.
seolah melekat, membekas.
ini memang kenyataan yang harus bisa diterima.
kita semua hidup dalam perbedaan.
perbedaan golongan
perbedaan ras
perbedaan budaya
perbedaan keyakinan
....serta perbedaan pendapat.
dan lagi-lagi, yang paling krusial adalah problema Agama.
setiap orang diberi kebebasan untuk memeluk agama,
aturan ini mengikat.
hingga kejelasannya disahkan dalam undang-undang kebangsaan.
yang jelas agama adalah pilihan.
banyak sekali agama di dunia ini.
it was an option,
lantas, kalau agama adalah pilihan, maka tiap orang berhak memilih kan?
aku tak akan mengekang apapun.
Lakum diinukum waliyadiin
"Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku"
namun, satu hal yang tak bisa kau lupakan adalah
setiap manusia juga memiliki kebebasan berpendapat.
maka untuk kali ini, biarkan aku bebas berpendapat diatas kebebasan berkeyakinan.
At first,
Aku disini tidak akan merayumu untuk menerima semua argumen subjektifku.
aku takut terlampau jauh,
aku tau,
tidak mudah untuk menyebarkan ilmu dan menerangkan apa yang aku tau.
apalagi menyamakan visiku dengan visimu.
aku tau,
tidak mudah untuk mengesampingkan egoku.
aku akan berusaha untuk menuliskan faktanya, dalilnya...
tentu saja, aku tidak suka basa-basi.
jika aku meyakini sesuatu, aku akan memaparkan datanya.
toh, ini adalah apa yang diajarkan oleh agamaku.
agamaku adalah agama Ilmiah
berbasis dalil, sunah dan ayat-ayatNya.
jelas aturannya.
bukan doktrin yang memaksa.
yang membuat logikamu dipaksa bungkam,
berhenti dari segala eksplorasi mendalam.
lalu bagaimana bisa kamu mempercayai berbagai hal yang agamamu paparkan,
padahal kamu pun tak bisa menjamin kebenaran?
:)
jadi sekarang akan aku putar pertanyaannya,
bagaimana bisa kamu mempercayai teori para ilmuwan,
padahal kamu tidak ikut terlibat dalam penelitian?
dan yang menarik adalah,
bahkan Al Quran sudah menuliskan banyak sekali pemaparan yang sama ribuan tahun
sebelum segala teori yang dibuat para ilmuwan itu disimpulkan.
ajaib kan?
aku hanya berharap,
kau mampu membaca duniaku...
memahami isi otakku...
mengetahui apa yang aku rasa indah
mengerti getaran yang aku rasa luar biasa.
Bismillah,
bukan rahasia umum, ini semua diawali tentang masalah yang digarisbawahi merupakan "pelecehan" agama, yang berdampak pada goncangan yang mengancam persatuan.
kaum mayoritas berbicara, "Jauhi kafir!", "Jangan beli produk orang kafir!"
dan kaum minoritas seolah terhina.
mereka merasa "dikafirkan"
ada yang mengerang di dalam dada mereka.
perasaan tak nyaman,
kata-kata "Kafir" membuat mereka menjadi kaum yang terpojokkan.
Mereka tak mengerti makna kata "Kafir" yang sebenarnya.
karena itu adalah istilah yang ada pada kamus Muslim.
Maka, Mengapa muncul perasaan tak nyaman ketika dikafirkan?
Perasaan apa ini?
:)
Wajar saja,
itu ghirah namanya.
Coba pikir,
Siapa yang menciptakan kalian, duhai anak manusia?
Manusiawi jika hatimu tergerak marah jika diolok dengan kata "Kafir".
Bahkan Sang Penciptamu sudah berkali-kali menuliskan soal kekafiran ini jauh ribuan tahun sebelum masehi yang lalu dalam sebuah kitab akhir jaman, yaitu Al Qur'an.
Kata "Kafir" seolah bermakna sarkas. Namun, sudahkah kau memahami arti kata "Kafir" yang sebenarnya?
Kafir ( bahasa Arab: ﻛﺎﻓﺮ kafir; Jamak ﻛﻔﺎﺭ kuffar ) Kafir berasal dari kata kufur yang berarti ingkar, menolak atau menutup, menyembunyikan sesuatu, atau menyembunyikan kebaikan yang telah diterima atau mengingkari kebenaran.
Kata kafir ini muncul sebanyak 525 kali di dalam Al Quran. Dan keterkaitan kata "Kafir" dengan makna Ketuhanan, Allah telah menjelaskannya satu paket dalam Surat Al Maidah ayat 72-75:
"Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, Sesungguhnya Allah itu dialah Al-Masih putra Maryam. Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu."
(Q.S. Al Maidah Ayat 72)
"Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga (trinitas), padahal tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih."
(Q.S. Al Maidah Ayat 73)
"Mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya? Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(Q.S. Al Maidah Ayat 74)
"Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang rasul. Sebelumnya pun sudah berlalu beberapa rasul. Dan ibunya seorang yang berpegang teguh pada kebenaran. Keduanya biasa memakan makanan. Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) kepada mereka (Ahli Kitab), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka dipalingkan (oleh keinginan mereka)."
(Q.S. Al Maidah Ayat 75)
Mengapa... Mengapa Allah (Tuhan para umat Muslim) seolah begitu sadis pada kaum Nasrani dan Yahudi?
Jawabannya, Tidak. Kalian salah, Allah tidak membenci kaum Nasrani dan Yahudi.
"Sesungguhnya orang-orang Beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Sabi'in, siapa saja di antara mereka yang beriman kepada Allah, Hari Akhir dan melakukan kebajikan, mereka akan mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati."
(Q.S. Al-Baqarah Ayat 62)
Setelah Salman selesai bercerita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Wahai Salman, mereka termasuk ahli neraka.” Jawaban itu sangat berat bagi Salman. sehingga muncullah ayat ini, Al Baqarah ayat 62.
Lalu, Siapakah kaum Yahudi, Nasrani dan Sabi'in yang dijamin kebahagiannya ini oleh Allah SWT?
kaum yang dimaksud adalah kaum Yahudi di jaman Nabi Musa yang mengikuti ajaran Nabi Musa dan berpedoman kitab Taurat hingga Injil datang,
dan kaum Nasrani di jaman Nabi Isa (Al Masih) yang mengikuti ajaran Nabi Isa dan berpedoman Injil hingga Al Quran datang.
dan kaum Nasrani di jaman Nabi Isa (Al Masih) yang mengikuti ajaran Nabi Isa dan berpedoman Injil hingga Al Quran datang.
bukankah telah digadang-gadang oleh Nabi Musa bahwa akan ada yang datang menyempurnakan ajaran dan kitabnya. Namun kaum Yahudi mengingkarinya.
bukankah telah disampaikan oleh Nabi Isa, akan ada yang terakhir yang datang menyempurnakan agama, kitab dan ajarannya.
Namun kaum Nasrani dan para ahli kitab menolaknya.
"Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui."
(Al-Baqarah: 146)
Mengingkari, menolak, dan menyembunyikan... bukankah ini "Kafir" namanya?
sementara siapakah kaum Sabi'in yang juga dijamin kebahagiannya oleh Allah SWT?
yaitu yang belum sampai kepada mereka dakwah seorang Nabi pun.
Lalu apakah umat muslim tidak mengakui kenabian Musa dan Isa?
tentu kaum muslimin mengakui Musa dan Isa sebagai Nabi utusan Allah.
namun yang perlu digaris bawahi dan selalu kami (kaum muslimin) yakini adalah:
sebenarnya, Yahudi Nasrani dan Islam sama saja.
sama-sama meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah.
lalu dimana titik pembedanya?
jawabannya ada pada Nabi dan Kitabnya.
Yahudi mempercayai Nabi-Nabi Allah yang datang sebelum Musa, namun mereka meyakini Musa sebagai Nabi penyempurna agamanya dan memegang teguh Taurat sebagai kitab mereka. Mereka tidak mempercayai kenabian Isa dan Muhammad yang datang setelahnya.
pun begitu dengan Nasrani. mereka mengenal Musa dan Nabi-Nabi sebelumnya, namun mereka meyakini Isa sebagai Nabi penyempurna agama mereka. Mereka bahkan meyakini Isa sebagai anak Allah. Nasrani tidak mengakui kedatangan Muhammad sebagai Nabi terakhir. Mereka memegang teguh ajaran Injil, walau pada kenyataannya Injil telah diubah oleh ahli-ahli kitab. Injil sudah tak lagi otentik.
lalu bagaimana dengan Islam?
Singkat kata, mengimani Islam itu berarti mempercayai bahwa tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Kaum Muslimin mengimani bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul terakhir yang diutus untuk menyempurnakan agama Allah. Nabi Muhammad adalah rahmat untuk semesta alam (Rahmatan lil alamin). dan percaya bahwa Al Quran dan Sunnah adalah risalahnya, petunjuk hingga akhir jaman.
untuk membuatmu lebih memahaminya, aku akan membuat sebuah perumpamaan.
jadi begini,
aku akan mengajakmu berpikir dengan logika sederhana.
dan membuatmu menembus sebuah dimensi baru untuk menyadari bahwa keimanan ternyata bisa disatukan dengan logika.
Mari kita misalkan, kita semua ada dalam sebuah kelas perkuliahan.
Dimana kita memasuki semester baru dalam sebuah perkuliahan, anggap saja semester tiga.
Ini adalah hari pertamamu berkuliah.
Dosen masuk, beliau berkata, "Akuntansi yang kita pakai berbasis pada standart pelaporan IFRS. untuk kuliah Akuntansi di semester ini, kalian wajib untuk memiliki buku Akuntansi dengan pengarang Donald E. Kieso edisi 16."
kemudian, seorang mahasiswa mengangkat tangan dan berkata, "maaf sebelumnya pak. Saya sudah memiliki buku yang sama, pengarang Donald E. Kieso. saya meminjamnya dari kakak angkatan, namun, buku ini edisi 15. apakah saya bisa memakainya?"
"tidak boleh", ucap dosen. seketika para mahasiswa terdiam.
Dosen itu pun melanjutkan, "Walaupun kamu memiliki buku dengan konsep dan teori yang sama, kamu tetap harus mempelajari versi terbarunya. kenapa? karena Ilmu terus berkembang. dan buku ini terus di update berdasar berbagai kebutuhan dan kondisi penggunanya. ada beberapa teori dalam buku itu yang berubah. ada beberapa teori yang terhapuskan atau digantikan dengan yang baru. saya khawatir, kamu akan terjebak dalam kesalahan atas beberapa teori jika masih menggunakan edisi lama. jadi, pakai yang baru."
sama halnya dengan Kitab Allah.
Allah menurunkan Kitab Taurat untuk Nabi Musa dan para kaumnya
Allah menurunkan Kitab Zabur untuk Nabi Daud dan para kaumnya
Allah menurunkan Kitab Injil untuk Nabi Isa dan para kaumnya
Allah menurunkan Kitab Al Quran untuk Nabi Muhammad dan para kaumnya
kitab-kitab ini terus di-update berdasar kondisi dan kebutuhan kaumnya.
namun,hal yang paling istimewa adalah, Nabi Muhammad turun sebagai Nabi terakhir dan Al Quran adalah pedoman hingga akhir jaman.
Jika kitab adalah buku, bukankah seharusnya kita membaca dan memahami buku versi terbarunya?
Islam adalah agama yang telah disempurnakan dan diridhoi Allah hingga akhir jaman.
Cobalah, baca dan eksplor Al Quran.
banyak hal baru yang akan kau temukan.
Al Quran adalah pedoman
yang tak akan pernah mati di telan jaman
Kita tak bisa memilih dari keluarga mana kita dilahirkan
Kita tidak bisa memilih bagaimana takdir kita harus berjalan,
namun aku yakin, kita masih bisa memperbaiki keimanan
Sungguh, ini adalah perkara manusia dengan Tuhan.
teruntuk kau yang tersadar bahwa
kau sedang berada dalam kesesatan,
Jika hidayah itu berhasil menyentil logikamu,
jangan ragu...
Perjuangkan kebenaran itu
Dunia cuma sementara, kau tau...
kematian kapan saja siap menjemputmu
Tak ada yang bisa digadaikan,
Tak ada yang bisa dijaminkan.
carilah kebenaran
Teruntuk engkau yang terlahir dengan Islam sebagai Iman,
sadarkah bahwa kau adalah kaum pilihan?
jangan hanya diam dan menyiakan.
perbaikilah amalan.
buka, baca dan amalkan Al Quran
kenali Nabi Muhammad shalallahu'alaihi wassalam
Masuki Islam secara penuh, utuh...
Lihatlah, ketenangan dan keberkahan akan senantiasa melingkupimu.
Allah akan terasa sedekat nadimu,
Ketika akhirat menjadi tujuanmu,
kau akan merasa dunia ada dalam genggamanmu.
***
by elinangelia
October, 6th 2017
catatan di Jumat sore.
14.50 WIB
tagline: Logika Keimanan The Series
tentu kaum muslimin mengakui Musa dan Isa sebagai Nabi utusan Allah.
namun yang perlu digaris bawahi dan selalu kami (kaum muslimin) yakini adalah:
Setiap Nabi diutus untuk setiap umat pada masanya. sementara Nabi Muhammad adalah nabi terakhir yang diutus untuk umat sepanjang jaman.
sebenarnya, Yahudi Nasrani dan Islam sama saja.
sama-sama meyakini bahwa tiada Tuhan selain Allah.
lalu dimana titik pembedanya?
jawabannya ada pada Nabi dan Kitabnya.
Yahudi mempercayai Nabi-Nabi Allah yang datang sebelum Musa, namun mereka meyakini Musa sebagai Nabi penyempurna agamanya dan memegang teguh Taurat sebagai kitab mereka. Mereka tidak mempercayai kenabian Isa dan Muhammad yang datang setelahnya.
pun begitu dengan Nasrani. mereka mengenal Musa dan Nabi-Nabi sebelumnya, namun mereka meyakini Isa sebagai Nabi penyempurna agama mereka. Mereka bahkan meyakini Isa sebagai anak Allah. Nasrani tidak mengakui kedatangan Muhammad sebagai Nabi terakhir. Mereka memegang teguh ajaran Injil, walau pada kenyataannya Injil telah diubah oleh ahli-ahli kitab. Injil sudah tak lagi otentik.
lalu bagaimana dengan Islam?
Singkat kata, mengimani Islam itu berarti mempercayai bahwa tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Kaum Muslimin mengimani bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul terakhir yang diutus untuk menyempurnakan agama Allah. Nabi Muhammad adalah rahmat untuk semesta alam (Rahmatan lil alamin). dan percaya bahwa Al Quran dan Sunnah adalah risalahnya, petunjuk hingga akhir jaman.
untuk membuatmu lebih memahaminya, aku akan membuat sebuah perumpamaan.
jadi begini,
aku akan mengajakmu berpikir dengan logika sederhana.
dan membuatmu menembus sebuah dimensi baru untuk menyadari bahwa keimanan ternyata bisa disatukan dengan logika.
Mari kita misalkan, kita semua ada dalam sebuah kelas perkuliahan.
Dimana kita memasuki semester baru dalam sebuah perkuliahan, anggap saja semester tiga.
Ini adalah hari pertamamu berkuliah.
Dosen masuk, beliau berkata, "Akuntansi yang kita pakai berbasis pada standart pelaporan IFRS. untuk kuliah Akuntansi di semester ini, kalian wajib untuk memiliki buku Akuntansi dengan pengarang Donald E. Kieso edisi 16."
kemudian, seorang mahasiswa mengangkat tangan dan berkata, "maaf sebelumnya pak. Saya sudah memiliki buku yang sama, pengarang Donald E. Kieso. saya meminjamnya dari kakak angkatan, namun, buku ini edisi 15. apakah saya bisa memakainya?"
"tidak boleh", ucap dosen. seketika para mahasiswa terdiam.
Dosen itu pun melanjutkan, "Walaupun kamu memiliki buku dengan konsep dan teori yang sama, kamu tetap harus mempelajari versi terbarunya. kenapa? karena Ilmu terus berkembang. dan buku ini terus di update berdasar berbagai kebutuhan dan kondisi penggunanya. ada beberapa teori dalam buku itu yang berubah. ada beberapa teori yang terhapuskan atau digantikan dengan yang baru. saya khawatir, kamu akan terjebak dalam kesalahan atas beberapa teori jika masih menggunakan edisi lama. jadi, pakai yang baru."
sama halnya dengan Kitab Allah.
Allah menurunkan Kitab Taurat untuk Nabi Musa dan para kaumnya
Allah menurunkan Kitab Zabur untuk Nabi Daud dan para kaumnya
Allah menurunkan Kitab Injil untuk Nabi Isa dan para kaumnya
Allah menurunkan Kitab Al Quran untuk Nabi Muhammad dan para kaumnya
kitab-kitab ini terus di-update berdasar kondisi dan kebutuhan kaumnya.
namun,hal yang paling istimewa adalah, Nabi Muhammad turun sebagai Nabi terakhir dan Al Quran adalah pedoman hingga akhir jaman.
Jika kitab adalah buku, bukankah seharusnya kita membaca dan memahami buku versi terbarunya?
Islam adalah agama yang telah disempurnakan dan diridhoi Allah hingga akhir jaman.
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (QS. Al Ma’idah: 3).
Cobalah, baca dan eksplor Al Quran.
banyak hal baru yang akan kau temukan.
Al Quran adalah pedoman
yang tak akan pernah mati di telan jaman
Kita tak bisa memilih dari keluarga mana kita dilahirkan
Kita tidak bisa memilih bagaimana takdir kita harus berjalan,
namun aku yakin, kita masih bisa memperbaiki keimanan
Sungguh, ini adalah perkara manusia dengan Tuhan.
teruntuk kau yang tersadar bahwa
kau sedang berada dalam kesesatan,
Jika hidayah itu berhasil menyentil logikamu,
jangan ragu...
Perjuangkan kebenaran itu
Dunia cuma sementara, kau tau...
kematian kapan saja siap menjemputmu
Tak ada yang bisa digadaikan,
Tak ada yang bisa dijaminkan.
carilah kebenaran
Teruntuk engkau yang terlahir dengan Islam sebagai Iman,
sadarkah bahwa kau adalah kaum pilihan?
jangan hanya diam dan menyiakan.
perbaikilah amalan.
buka, baca dan amalkan Al Quran
kenali Nabi Muhammad shalallahu'alaihi wassalam
Masuki Islam secara penuh, utuh...
Lihatlah, ketenangan dan keberkahan akan senantiasa melingkupimu.
Allah akan terasa sedekat nadimu,
Ketika akhirat menjadi tujuanmu,
kau akan merasa dunia ada dalam genggamanmu.
***
by elinangelia
October, 6th 2017
catatan di Jumat sore.
14.50 WIB
tagline: Logika Keimanan The Series
No comments:
Post a Comment