"....karena kamu nggak tau sampai sejauh mana kamu bisa menginspirasi orang lain."
memang benar adanya,
dan bahkan sampai hari ini aku mampu bangkit dan bertahan pun karena aku merasa inspirasi dan motivasi seolah tak pernah berhenti menghujani.
for me,
inspiration was a big deal.
motivation was an energy.
seperti kata pepatah,
dalamnya laut bisa diukur
dalamnya hati tak ada yang tau.
inspirasi bisa datang dari mana saja,
dari ucapan, dari perbuatan, dari kisah, dari film, dari tulisan, dari foto, dari akun sosial media dan lain sebagainya.
tergantung bagaimana kita menyikapinya,
tergantung bagaimana kita merengkuhnya.
aku percaya,
selalu ada kemungkinan di balik ketidakmungkinan.
mungkin... bagi banyak orang, ada satu hal yang tidak menjadi perkara besar.
namun, bisa jadi hal sederhana ini mampu mengetuk hati beberapa orang.
mungkin saja ada yang tertampar keras hanya karena sebuah sentilan obrolan kecil,
mungkin saja ada yang tiba-tiba bertobat hanya karena quotes ringan di instagram,
mungkin saja ada yang menangisi dosa semalaman hanya karena sebuah video singkat.
teruslah berkarya,
walau karya mu tak bertuan
walau karya mu tak berbayang tujuan.
aku selalu merasa aku bukanlah siapa-siapa
aku bukan apa-apa.
aku hanyalah seorang manusia yang disibukkan dengan petualangan.
yang terkadang terjatuh di tengah jalan,
untuk kemudian bangkit dan berdiri sendirian,
aku terbangun karena dibayangi tujuan.
aku mengejar inspirasi.
aku terus mencari,
mencari inspirasiku sendiri
aku menggali motivasiku sendiri.
terus berlari...
walau aku masih tak mengerti,
apa sebenarnya yang ingin ku miliki.
sampai di suatu titik dimana aku menyadari bahwa,
rupanya aku terlena,
aku sibuk berlari mencari cahaya
hingga aku tak sadar bahwa ternyata,
aku adalah pelita.
ada gejolak di dalam jiwa,
untuk kemudian kembali berdoa
dan meminta,
"Ya Allah, bantu aku untuk terus berkarya dan berdakwah"
dan sungguh istimewa
jika inspirasi ini datang bertabrakan dengan hidayah.
kini akan ku ceritakan, sebuah kisah hijrah yang indah.
di suatu kamis sore,
berawal dari seorang teman yang tiba-tiba mengirim pesan kepadaku melalui direct message instagram.
"lin, boleh nanya sesuatu gak?"
"iya silahkan", balasku antusias.
"aku mau nanya, kenapa sih kamu mutusin berjilbab?",
Masya Allah.. aku tersenyum...
Aku bahagia,
akhirnya ada yang tiba-tiba bertanya
tentang sebuah kisah yang selalu ingin ku bagikan.
dan ini adalah awal bagaimana semuanya dimulai.
singkat cerita, aku menceritakan seluk beluk kisah hijrahku yang panjang.
(kisah yang cukup menjadi privasi, but... later... insya Allah kalo aku udah yakin bakal aku bagikan kisah ini)
dan sampai suatu saat ia mengajakku bertemu,
tepat keesokan harinya, di hari jumat yang penuh berkah
kami pun menyempatkan bertemu di sela jam istirahat kantor.
di tengah foodcourt mall yang ramai,
saudariku ini bercerita,
tentang perang antara keraguan dan kemantapan
yang bergejolak di dalam hatinya.
"aku ingin berjilbab.. aku ingin hijrah, tapi.....
aku gak tau lin, bantu aku memantapkan hatiku.."
begitu ucapnya, seraya ku lihat air mata menggenang dari sudut kedua bola matanya.
Masya Allah, ku rasakan getaran dalam dadaku...
ini bukti, tentang bagaimana hidayah menyapa.
sederhana, namun merasuk ke relung-relung jiwa.
Masya Allah...
Masya Allah...
Masya Allah...
aku mendengarnya menceritakan apa isi kepalanya,
aku mendengarnya mengadukan resahnya,
aku mendengarnya menyuarakan keraguannya,
aku mendengarnya berbicara tentang kisahnya,
aku mendengarnya mempertanyakan kemantapannya.
Ia terus mempertanyakan tentang kemantapannya.
aku pun bertanya,
"Apakah kamu tau, mengapa wanita muslim diwajibkan berjilbab?"
"iya lin.. karena wanita berharga dan Allah ingin menjaga kita kan?"
"iya benar...", jawabku.
"sama seperti sebuah permen, jika ada 2 permen terjatuh, yang satu sudah terbuka dan yang satu masih terbungkus, kau akan memilih yang mana? yang terbungkus kan?", tambahku menukil salah satu perkataan Dr. Zakir Naik.
kemudian aku pun kembali bertanya,
"terus kamu tau gak, buat apa kita hidup di dunia ini?"
"enggak..."
"jadi hidup itu adalah ujian. dan karena hidup adalah ujian, maka kita sendiri yang harus memilih jalan hidup kita. mau kemana atau mau ngapain itu pilihan kita. mau jadi baik atau memilih menjadi manusia yang buruk itu pilihan kita. pada akhirnya, kita akan dikasih reward sesuai amalan-amalan yang kita kerjakan. nanti, semua itu akan dihisab di padang mahsyar. hisab Allah adalah seadil-adilnya hisab."
"terus kamu tau gak dimana Allah?", tanyaku kembali
air matanya kembali terbendung.
"Allah ada dimana-mana?", jawabnya ragu.
"Allah ada di Arsy-Nya. di atas sana. dan kita ini terlalu kecil bagi Allah. terlalu mudah bagi Allah. Allah terlalu besar dan tiada yang menyamaiNya?"
dan aku terus bercerita tentang dimana Allah dan bagaimana Allah sebatas pengetahuan yang aku dapatkan dari majelis ilmu ustadz Khalid Bassalamah.
semata-mata,
aku ingin membuat ia mengerti perihal posisinya sebagai manusia.
aku ingin membuat ia memahami bagaimana sosok Sang Pencipta.
and makes her realize,
the reason, the only reason:
kenapa kita harus beribadah kepada Allah.
Dibalik keinginan hatinya untuk berhijrah, ia bercerita tentang bagaimana awal mula hidayah ini menyapanya.
berawal dari bagaimana video-video dakwah ustadz Hannan Attaki yang entah mengapa tiba-tiba sering muncul di feed explore instagramnya.
bagaimana ia tersentuh hanya karena video ringan 60 detik di instagram.
seolah banyak hidayah yang menyapa di hari-harinya dan hadir di kala masa senggangnya.
ia bercerita bagaimana tiba-tiba ia menemukan hadits terkait seorang anak gadis yang tidak berjilbab mampu menyeret ayahnya ke neraka.
ia bercerita tentang bagaimana mungkin banyak sekali sentilan-sentilan kecil, seolah pesan yang membuat keraguannya seolah teroyak untuk kembali mempertanyakan kemantapannya berhijrah.
aku pun tersenyum seraya berkata, "begitulah cara Allah menyapamu. itu tandanya Allah sedang berbicara kepadamu, berkomunikasi sama kamu."
"hidup itu cuma soal menghamba. menghamba. dan menghamba", lanjutku menekankan kata menghamba, meyakinkan tentang makna penghambaan.
kemudian wajahnya memerah, menahan haru yang bergejolak di dalam dadanya.
kemudian ia kembali berbicara,
"aku tau kamu sebatas tau. aku kenal kamu sebatas kenal, gak kenal deket kan lin. udah lama banget aku mau nanyain ini ke kamu. aku ragu mau nge-dm kamu. aku bingung kadang, dm gak ya? akhirnya aku nekat banget. eh kamu langsung respon positif lin. kamu share semua kisahmu. bener-bener bikin aku terharu. seolah Allah permudah segalanya"
aku berkata,
"dan pertemuan kita hari ini, entah kenapa kemarin tuh aku tiba-tiba mikir, hari jumat besok pengen makan di luar. begitu kamu dm dan rasanya aku mikir "oke besok kita harus ketemu", emang aku juga ngerasa pertemuan ini seolah emang udah di-set sama Allah, dipermudah sama Allah. lihatlah, gimana Allah bisa banget koneksiin kita kayak gini ya. tapi by the way, kenapa harus aku? i mean, kamu kenapa harus banget kamu mikir kamu memilihku untuk tanya soal ini. padahal kita sebatas kenal dan gak pernah deket sebelumnya."
"diantara teman-teman yang lain, entah kenapa aku pengen banget nanya ke kamu. karena kamu tuh kayak lagi jatuh cinta-jatuh cintanya sama Allah.. sama Islam, lin..", ungkapnya.
dan aku pun melihat air matanya menggenang dari balik kacamatanya.
darahku seolah berdesir tak normal dari biasanya.
jantungku berdegup seraya menyerukan asma Allah,
Masya Allah...
di kala aku jatuh cinta kepada-Mu, Ya Raab...
di kala seakan aku ingin tunjukkan kepada dunia, betapa Engkau Yang Maha Memiliki Segalanya.
disaat aku ingin pahamkan kepada manusia, betapa patutnya membangun rasa cinta kepada Sang Pencipta atas segala berkah dan kesempurnaan yang melingkupi hidup kita...
disaat aku jatuh cinta kepada syariat-Mu, Ya Raabi...
disaat bagaimana aku dibuat terpesona tentang bagaimana Islam mengatur kehidupan ini,
disaat iman ku membara,
disaat aku rela membagikan kekagumanku terhadapMu ini pada dunia,
disaat itu lah ternyata ada yang tersentuh,
untuk kemudian meragu,
dan mempertanyakan zona nyaman yang selama ini ia pijaki
apakah ada yang salah atau tetap dibiarkan berjalan seperti ini?
Pertemuan satu jam yang indah,
yang membuatku tersadar tentang bagaimana indahnya hidayah menyapa,
dan tanpa ku sangka, ternyata aku adalah agen agama-Nya.
satu minggu kemudian, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha 1438 Hijriah yang jatuh di hari jumat,
sahabatku ini akhirnya memantapkan diri untuk berjilbab.
Alhamdulillah,
kini saudariku ini telah berhijrah.
dan kabar baiknya,
ia sering sekali bertanya kepadaku tentang
hukum, syariat dan berbagai hal tentang Islam.
itu tandanya ia sedang ingin belajar,
dan secara tidak langsung memacuku untuk ikut belajar.
just...
keep moving forward ya!
"Sekelam apapun masa lalumu,
masa depanmu masih suci" - quotes by Hamas Syahid
(gausah baper ya girls baca nama Hamas Syahid wkwk)
aku harap,
engkau selalu istiqomah
dan terus merangkak untuk memperbaiki segalanya.
semoga istiqomah hijrahmu mampu mengantarmu hingga ke Surga.
Aamiin Yaa Robbal Aalaamiin.
#####
"dan yang aku salutkan,
pada akhirnya kamu memilih untuk berjalan
walaupun perlahan
semoga Allah limpahkan kekuatan"
(from Elin to Tunik!
*hugssss*)
dear bestfriend,
i wish
the gift
that i gave to you
will be
the gift to remember,
to keep remembering
about your Hijrah,
and i hope
it will be
a ticket
which will
guide you
and me,
us....
until Jannah!
aamiin, insya Allah!
BarokAllahu fi umrik wa hayati
ana uhibuka fillah :)
//Nov, 2nd 2017
16.09 WIB//
No comments:
Post a Comment