Sunday, 30 December 2018

2018


Tentang  yang terulang,
Berulang
Kenang
Tak usang

Tentang hal baru,
Mengasahku
Menumbuhkanku
Menguatkanku

Tentang harapanku,
Masih abu
Ternyata semu
Tak kunjung temu

Masa lalu menyisakan cerita,
Masa depan menumbuhkan tanya;
Akankah semua baik-baik saja?
Akankah waktuku bermakna?


//
2018, hangat berselimut manis dan elegi.
Untuk yang datang dan pergi,
Untuk yang hilang dan kembali,
Untuk kopi, senja, sajak dan ditraksi,
Untuk segenap kisah yang tak akan terulang lagi,
Untuk cerita yang akan segera berganti,
Untuk getir yang mengasah serat-serat harap ini,

Terima Kasih.

- elin angelia, 31/12/2018 -

Monday, 23 April 2018

Dialog antara Pencipta dengan HambaNya

- Dialog antara Pencipta dengan HambaNya -
oleh: Elin Angelia

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (Q.S. Al Baqarah: 164)

Di dalam Al Quran, Allah seringkali menyindir manusia dengan berbagai kalimat perintah untuk berpikir, misalnya;
Afalaa ta’lamuun (apa kamu gak tau?)
Afalaa tub’shiruun (apa kamu gak liat?)
Afalaa tatafakkaruun (apa kamu gak mikir?)
Afalaa tatadabbaruun (apa kamu gak teliti?)
Afaala ta’qiluun (apa kamu gak telaah?)
Afalaa tasma’uun (apa kamu gak denger?)
Afalaa tub’shiruun (apa kamu gak liat?)
Afalaa tatafakkaruun (apa kamu gak mikir?)
Afalaa tatadabbaruun (apa kamu gak teliti?)
Afaala ta’qiluun (apa kamu gak telaah?)
Afalaa tasma’uun (apa kamu gak denger?)

Dan apabila kita pahami maknanya,
Bahwasanya, ini semua adalah dialog antara pencipta dengan hamba-Nya untuk menunjukkan kebesaranNya.
Bahwasanya, ini semua adalah cara Allah berkomunikasi dengan makhluk-Nya untuk menunjukkan keagungan-Nya.

Pernah gak sih kamu membuka mata, melihat dunia untuk sejenak saja terbesit, "adakah sosok yang tak ada dalam ketiadaan-Nya?"

Pernah gak sih kamu berpikir, bagaimana bisa matahari terbit dan tenggelam untuk kemudian muncul siang dan malam, siklus yang sama ini berulang setiap harinya... pernah gak sih kamu bertanya, bagaimana mungkin tak ada yang mengendalikan semuanya?

Pernah gak sih kamu bertanya, bagaimana mungkin hewan-hewan yang hidup di hutan, semut-semut kecil yang menjalar di pepohonan, ikan-ikan yang berenang di lautan dapat hidup dan berkembang dengan baik? pernah gak sih kamu berpikir, bagaimana mungkin alam raya ini terpelihara jika tak ada yang merawatnya?

Pernah gak sih kamu menganalisa, bagaimana bisa manusia tercipta sedemikian sempurna, siapa yang menciptanya? jika teori evolusi adalah jawabannya, pernahkah logikamu bertanya jika manusia adalah evolusi dari kera, bagaimana mungkin ketika manusia tercipta, kera tak enyah? Kera masih saja hidup saat ini, pun mereka tak menunjukkan gejala evolusi sama sekali. apa benar manusia produk evolusi? atau bahkan ada yang mencipta manusia-manusia itu sendiri?

Bukankah seharusnya memang ada sesuatu yang ada dalam ketiadaan-Nya?

Maka dalam kesempurnaan yang tercipta dalam seperangkat tubuh manusia, akal adalah sebuah anugerah. Akal dicipta agar manusia berpikir dan mengenalNya tanpa perlu Ia menjelaskan siapa diriNya, tanpa perlu Ia tunjukkan sosokNya. Karena tak akan pernah ada kata-kata yang mampu melukiskan kesempurnaaNya. Tak akan ada satu hal pun di dunia ini yang sebanding dengan keagunganNya.

Dan tentang bagaimana sosok-Nya, logika ku menjawab bahwa yang jelas Ia tak sebanding dengan apa-apa yang Ia cipta. Ia tak akan pernah mampu diserupakan dengan segalanya. Ia sempurna, Ia tunggal, tak serupa manusia, pun tak beranak dan diperanakkan. pun tak menjelma dalam bentuk anak Tuhan. Ia berbeda dari apapun yg ada di dunia, karena setitik saja kesamaan, tak akan pernah membuat-Nya luar biasa.

(24/4/18 renungan di atas meja kerja)

Friday, 6 April 2018

Sajak Penghibur


Jangan gantungkan harapmu setinggi-tinggi,
Karena bisa saja kecewa yang kau dapati.

Jangan doktrin hatimu terlewat berbunga,
Karena kekecewaan itu dekat adanya.

Kan kemarin sudah kuingatkan,
Bahwa berharap kepada selain-Nya akan berujung kekecewaan.

Kan kemarin sudah kubilang,
Bahwa Semua harapan di dunia ini sifatnya gamang.

Dunia ini tak sempurna, sayangku…
Jangan jebak dirimu dengan harapan semu.

Kamu masih terlalu muda, sayangku…
Kecewa itu sungguh buang-buang waktu.

Maka teruntuk hati yang sedang bersedih,
Lihatlah… kamu tak sendiri.
Biar aku yang menemani,
Bersambut sajak-sajak penghibur ini.

Teruntuk hati yang lapang,
Aku percaya, disana masih ada ruang.
Kamu itu Bintang!
Jangan redup, tetap terang…
Karena kamu selalu dirindukan banyak orang
Tetaplah jadi tempat ternyaman untuk pulang

Ketika mentari tak lagi terasa hangat,
Sajak penghibur ini kubuat
Untuk hati yang sedang kehilangan semangat,

Ketika sakit meradang hingga ke sanubari,
Sajak penghibur ini didedikasi
Teruntuk hati yang harus melepasnya pergi.

Teruntuk hatimu yang tak tau arah…
Pun, untuk hatiku yang tak tau kemana harus bermuara…


- by. Elin Angelia -
06 April 2018, 15.09

----

Jangan ada kecewa,
Biar Allah yang atur segalanya, ya?

Monday, 8 January 2018

METAMORFOSA

Melukiskan impian, memeluk harapan dan berujung kegagalan menjadi pembelajaran yang tak terlupakan.
Aku hancur, tapi tak benar-benar hancur.
Aku menyerah, tapi nyata-nyatanya ada secuil harap yang tersisa.
Maka inilah Turbulensi...
yang membuatku belajar untuk mengendalikan obsesi.
Dan tentang bagaimana jalan yang berliku, kehilangan tuju pikirku... 

Justru mampu membuatku semakin mengenal-Nya.
Tentang segala cara untuk merayuNya, 

Tentang doa dalam sujudku yang selalu diijabah-Nya, 
Dengan cara yang tak terduga, dengan jawab yang tak pernah kusangka. 
Apapun jawabanNya, ternyata ada berkah kebaikan di dalamnya. 
Sungguh, jika engkau memahamiNya, 
Bagaimana mungkin kau berpaling dan tak jatuh cinta?

Tentang apa yang datang dan pergi. 

Tentang apa yang hilang dan kembali. 
Tentang hal baru yang aku temui. 
Tentang orang-orang baru yang ku kenali. 
Teman-teman yang berjalan bersamaku di jalan taqwa, 
Sahabat-sahabat baru yang saling memeluk dalam dekap ukhuwah.
Terima kasih untuk yang telah datang...

Aku percaya, kalian akan mengambil peran menjadi kepingan cerita masa depan.
Dan teruntuk apa yang hilang, terima kasih telah meninggalkan kenangan.

Proses yang tak mudah,
Namun asaku tak akan pernah berubah.
Hanya saja, diriku kini tak lagi sama.
Rupanya aku bermetamorfosa.


-elin angelia-
CATATAN AKHIR TAHUN
(2017 adalah paradoks yang indah)
29/12/17, 4.18 PM