
suatu siang aku mendapat panggilan telepon dari nomor berkode 021. hmmm i guess ini dari jakarta. dan! selamat, cerpen anda dimuat di majalah kaWanku. dan inilah cerpennya :
##########
ADA
BINTANG DI BAWAH KOLONG JEMBATAN
Aku adalah seorang
pelajar SMA. Aku adalah sesosok gadis pendiam yang benci basa basi. Aku bangga
dengan kemampuan akademikku yang diatas rata rata. Di sisi lain aku benci
dengan kekuranganku, aku benci ketika aku harus beradaptasi di lingkungan baru.
Aku kesulitan dalam menjalin sebuah pergaulan. begitu banyak kata terangkai
dalam pemikiran, tapi aku kesulitan dalam mengutarakan sebuah kata untuk
memulai pertemanan. Tak heran jika aku
cenderung diam. Aku lebih memilih sebuah buku catatan untuk menuangkan semua
keganjalan. Sekonyol apapun pemikiranku, Buku Catatan memang teman setia yang
selalu mau mendengar. Beginilah diriku, melankolis dan sangat pendiam.
Aku benar benar ingat
ketika teman temanku tak mempedulikanku. Aku memang terlalu pendiam dan wajar
saja jika tak ada yang mau berteman denganku. Hal ini membuatku merasa mereka tak
pernah menganggapku ada. Aku akan menjadi sosok yang nyata ketika aku hanya menjadi
alat pengingat rumus dan mesin penghitung ketika ulangan. Mereka memperalatku
disaat mereka butuh. Dari lubuk hati terdalam, Aku butuh sebuah pengakuan.
**
Hari itu datang, sebuah
perubahan yang merevolusi separuh jiwaku. Saat pertama aku mengenalnya,
Lintang. Ia murid baru dan dengan tatapan penuh kepercayaan memilih duduk
sebangku denganku. Ia selalu mengajakku bicara, Ia tak pernah berhenti
melontarkan segerombolan pertanyaan yang selalu membiusku untuk berbicara
panjang lebar. Semakin lama aku menemukan sebuah kenyamanan, dan kenyamanan itu
berkembang menjadi sebuah kebebasan. Sebuah kebebasan abstrak dalam berbagi dan
bereksplorasi. Rupanya lintang telah berhasil membongkar sisi lain dibalik sisi
misteriusku. Ia berhasil menghancurkan sisi pendiamku. Ia tak pernah
memanfaatkan kelebihanku, ia pun tak pernah mentertawakan kekuranganku. Aku
berbagi, ia juga berbagi. Berbagi tentang segala hal, dan kebebasan itu kini makin
berkembang menjadi sebuah kepercayaan.
Hari ini, aku telah menemukan
sesosok sahabat sejati.
Lintang adalah gadis
yang energik dan menarik. Ia mudah bergaul dan aktif dalam berbagai organisasi.
Tak heran, jika ia memiliki banyak teman, hampir semua orang di sekolah
mengenalnya. Guru, Adik kelas, Kakak kelas, Satpam, Penjaga Sekolah semua
mungenalnya. Ia memang ramah dan murah senyum. Aku sangat mengagumi
kepribadiannya.
**
Lintang adalah salah
satu redaksi dari majalah sekolah. Suatu siang di hari minggu ia mengajakku
untuk mengadakan wawancara dengan anak anak jalanan. Kami berdua segera
melakukan observasi. Aku dan lintang menemukan komunitas anak jalanan di bawah
kolong jembatan. Aku dan lintang menghampiri mereka, rupanya mereka sedang
menghitung uang hasil ngamen dan berjualan koran. Beberapa dari mereka adalah
anak usia 6 sampai 10 tahun. Dan terlihat beberapa anak jalanan lain yang
berusia sekitar belasan tahun dan tampak mengayomi teman temannya yang lebih
kecil.
“Lihat mereka na... jam
segini, anak seumuran mereka harusnya tidur siang. Tapi liat tuh mereka siang
siang gini kerja cuma demi makan. Beruntung banget yah kita dulu, makan aja
tinggal ngambil!”, ucap lintang yang tak melepas pandangan dari komunitas anak
jalanan itu.
Aku dan lintang pun
langsung melakukan wawancara. Aku tertarik, melihat seorang anak jalanan yang
tampak ceria dan optimis, usianya sekitar 9 tahun. Kami berdua mendekat, dan
lintang pun memulai pembicaraan
“Halo dik, namanya
siapa?”, sapa lintang penuh semangat
“Namaku adi....”, anak
jalanan itu tampak sedikit takut.
“Jangan takut dik.
Kakak Cuma mau wawancara buat majalah sekolah. Kakak boleh tau gak gimana
kehidupan kamu selama ini..” ucap lintang ramah dan meyakinkan
“Oke kak”, jawab anak
itu sumringah
“Kakak mulai ya,
1..2..3..”, ucap lintang sambil menekan tombol start pada recordernya.
“Namaku adi. Aku gak
tau nama lengkapku sapa. Tapi katanya Ibu Sri nama lengkapku Adi Setiawan. aku
tinggal sama ibu angkatku, rumahnya di dekat rel kereta. Jam 5 pagi aku
berangkat jual koran di lampu merah. Kalo udah siang aku ngamen di stasiun
kereta. Biasanya sih kalo habis maghrib langsung pulang.”, ucap adi semangat
“Biasanya sehari dapat
berapa dik. Kamu nggak sekolah?”, kataku penasaran
“Kalo jual koran
biasanya kalo sepi dapet 5ribu kak. Kalo rame 20 ribu. Kalo ngamen gak tentu.
Biasanya 8ribu. Kata ibu, adi gak usah sekolah. Ibu gak punya uang. Adi disuruh
kerja aja. Sekolah itu mahal, kata ibu enakan ngamen. Soalnya ngamen dapet uang”, ungkap adi sambil
memainkan senar gitar kecilnya.
“Bentar deh, tadi kamu
bilang ibu angkat. Ibu kandung kamu kemana”
“Dulu adi sama ibu dan
kakak naik kereta dari Surabaya ke Jogja. Adi kehilangan Ibu pas di stasiun.
Adi nangis, adi ditinggal. Ibu gak nyari adi, adi nangis sendirian di deketnya
gerbong kereta yang rusak. Terus ada ibu ibu di stasiun yang mau ke Jakarta. Namanya
Ibu Sri. Ibu itu ngajak adi naik kereta. Adi dibawa ke Jakarta. adi diajak tinggal
di rumahnya. Adi disuruh ngamen. Adi diangkat jadi anak dan jadi kayak
sekarang...”, ucap adi polos.
“Kamu gak pengen pulang
ke Surabaya?”, ucap lintang penuh simpati.
“Nggak Kak.. Adi benci
sama ibu, ibu gak cari adi. Adi gak mau pulang. Adi sudah lupa sama muka ibu. Mungkin
ibu disana juga gak peduli sama adi. Dulu di Surabaya ibu sering mukul adi. Adi
gak mau pulang. Adi takut, enak di Jakarta sama ibu Sri. Ibu Sri nggak jahat.
teman adi banyak sekali disini.. Oh iya, kakak kenal sama presiden? Tolong
bilang ya ke Pak Presiden, Adi gak bisa baca tapi Adi pengen jadi Polisi..”
Lintang menangis sambil menggenggam recorder.
**
Suatu sore di hari
sabtu lintang datang ke rumahku. Aku membantu lintang menyusun laporan
wawancara anak jalanan. Ku lihat lintang duduk sendirian di beranda. Ia tampak
memegang recorder dan mendengarkan percakapan antar ia dan anak jalanan itu. Ia
terlihat merenung, aku mendekat sambil membawa 2 gelas teh yang masih hangat.
Aku menaruh teh itu di meja, kupegang pundak lintang kemudian ia berbisik “aku akan bantu mereka....”, lintang menangis.
Aku terhanyut. Ku lihat
secarik kertas, tulisan lintang : ADA BINTANG DI BAWAH KOLONG JEMBATAN
**
Satu bulan kemudian,
lintang harus dihadapkan dengan kenyataan pahit yang benar benar mengguncah
mental dan jiwanya. Sebuah pengakuan dari ibunya bahwa kini ibunya telah jatuh
cinta pada pria lain, dan ibunya sudah tak sanggup lagi hidup bersama ayah lintang
yang selalu sibuk bekerja dan jarang pulang ke rumah. Hal ini membuat
pertengkaran berlarut larut antara kedua orang tua lintang. Ayah lintang merasa
sangat murka, terluka dan terkhianati. Dan ibu lintang pun rupanya sudah siap
dengan segala resiko dari sebuah pilihan yang menikam banyak pihak, terutama
lintang. Mereka memutuskan bercerai. Ibu lintang telah menemukan dunianya,
dunia baru dengan suami baru dan segala kontroversi.
Lintang sangat
terpukul. Ia tak menyangka kebahagiaan itu kini hancur. Kenangan masa kecil
yang indah, sosok ibu yang selalu membimbingnya telah pergi demi laki laki
lain. Orang tuanya bercerai. Ia tertekan.
Lintang memilih tinggal
bersama ayahnya, lebih tepatnya memilih untuk menemani ayahnya yang terluka.
Sejak saat itu ayah lintang berubah. Ayah lintang menjadi lebih pendiam dan
tertutup. Ayah lintang bekerja semakin keras. Ayah lintang semakin jarang
pulang ke rumah. Mungkin itu bagian dari pelampiasan untuk melupakan luka yang
terlanjur meradang dan tak bisa terobati. Lintang selalu murung, memikirkan
keluarganya yang kacau balau. Aku tak lagi melihat sosok lintang yang aktif dan
ceria. Aku tak lagi melihat lintang yang selalu tersenyum. Sahabat,
kembalilah.. aku mau kamu yang dulu.
**
Kondisi kesehatan ayah
lintang semakin lama semakin menurun. Ayah lintang mengidap penyakit pada paru
parunya. Mungkin ini peringatan untuk ayah lintang yang beberapa bulan terakhir
bekerja membabi buta hingga tak peduli pada kesehatannya.
Demi alasan kesehatan,
keluarga lintang menyarankan untuk mengajak lintang dan ayahnya pindah ke Bandung,
di daerah puncak. Udara disana sangat bersih dan cocok untuk ayahnya yang
sedang sakit.
Takdir menuliskan
sebuah perpisahan.
Pagi itu aku datang ke
rumah lintang. Rupanya semua benda sudah diboyong ke bandung. Lintang yang akan memasuki mobil tiba tiba melihatku,
ia berjalan dan tersenyum ke arahku.
“Ini waktunya na... Maaf
ya, aku harus pergi. Thanks ya, kamu sahabat terbaikku. Aku gak bakal lupain
kamu. Kamu jangan nangis dooong. Aku pasti kembali, aku bakal kembali dengan
sebuah perubahan besar..”, aku tertegun. Jiwaku bergejolak, berat rasanya untuk
berkata sepatah saja.
Lintang memelukku,
kemudian ia pergi sambil melambaikan tangan dari dalam mobil. Semakin lama ia
semakin jauh, dan ketika bayangannya sudah tak tampak aku masih terdiam. Aku
merasakan ada yang hilan. Tak lama aku sadar, aku beranjak dan masih membisu.
aku tau semua telah terjadi. Waktu dan takdir telah berhasil bersekongkol
menculik sahabat terbaikku.
**
Aku menjalani hari hari
tanpa lintang, secara perlahan dan tak langsung ia telah menyihirku. Aku
berubah, tak se-pendiam dulu. Aku banyak belajar dari lintang. Lintang
mengajariku bergaul dan bersosialisasi. Terkadang setiap aku melihat beberapa
anak jalanan di lampu merah aku teringat Adi, dan jika teringat Adi aku pasti
teringat Lintang. Lintang sangat terobsesi untuk mewujudkan mimpi anak jalanan
itu. Hingga kini, Lintang tak pernah memberi kabar. Aku tak bisa
menghubunginya. Aku lost contact selama 8 bulan.
**
Siang hari, di hari
minggu. ada sebuah sms di handphone ku. Nomor tak dikenal,
Segera temui aku di kafe pelangi
hari ini. Jam 4 sore. Aku sangat mengharapkan kehadiranmu.
-Lintang-
Aku terkejut, Lintang.
Ia kembali. Aku segera menemuinya di kafe pelangi. Ia duduk di tempat biasa, di
dekat jendela. Lintang terlihat semakin sehat. Rambutnya semakin panjang, kira
kira 5cm. Ia mengenakan kemeja merah kesayangannya. ia tersenyum. Dan sangat
jelas ia bahagia. ia datang membawa kabar gembira. Ayahnya sudah kembali sehat.
Ia senang tinggal di Bandung. Dan Lintang benar, ia benar benar kembali dengan
sebuah perubahan.
“Na... kamu harus tau! Berkat
usaha Ayah dan Keluargaku, aku berhasil membuka Rumah Singgah untuk anak
jalanan. Kurang lebih 130 anak jalanan terdaftar sebagai anggota di rumah
singgah itu, luar biasa bukan? Aku senang membantu mereka. Oh iya, Adi juga
ikut menjadi anggota Rumah Singgah kami. Dan, sekarang ia sudah mulai bisa
membaca ... begitu pula anak jalanan lainnya. Dalam waktu 5 bulan mereka sudah
mulai bisa membaca, Semangat mereka luar biasa. Aku senang. Oh iya, berkat
bantuan Om ku, rumah singgah ini ada di bawah naungan Komnas Perlindungan Anak
lhooo..”,ucap lintang penuh semangat.
“wah, hebat kamu lin.
Aku salut sama kamu”, ucapku kagum.
“oh iya, ada satu hal
lagi. Minggu depan kamu harus datang ke acaraku dan anak anak jalanan lainnya.
Kami diundang makan malam bersama di acara nya Komnas Perlindungan Anak dan tau
nggak sih Pak Presiden bakal dateng ke acara itu lhoo..”, ajak lintang penuh
harap.
“Past Lin. Aku pasti
dateng kok. Aku bangga Kamu berhasil mewujudkan mimpi salah satu diantara
mereka..”
“Mimpi? Apa ?”, lintang
bingung
“Adi akan berkata pada
Pak Presiden bahwa ia sudah bisa membaca dan ingin menjadi Polisi...”
Lintang tersenyum.
No comments:
Post a Comment