Friday, 29 June 2012

Ada Bintang di Bawah Kolong Jembatan (CERPEN)



suatu siang aku mendapat panggilan telepon dari nomor berkode 021. hmmm i guess ini dari jakarta. dan! selamat, cerpen anda dimuat di majalah kaWanku. dan inilah cerpennya :


##########


ADA BINTANG DI BAWAH KOLONG JEMBATAN
Aku adalah seorang pelajar SMA. Aku adalah sesosok gadis pendiam yang benci basa basi. Aku bangga dengan kemampuan akademikku yang diatas rata rata. Di sisi lain aku benci dengan kekuranganku, aku benci ketika aku harus beradaptasi di lingkungan baru. Aku kesulitan dalam menjalin sebuah pergaulan. begitu banyak kata terangkai dalam pemikiran, tapi aku kesulitan dalam mengutarakan sebuah kata untuk memulai pertemanan. Tak heran  jika aku cenderung diam. Aku lebih memilih sebuah buku catatan untuk menuangkan semua keganjalan. Sekonyol apapun pemikiranku, Buku Catatan memang teman setia yang selalu mau mendengar. Beginilah diriku, melankolis dan sangat pendiam.
Aku benar benar ingat ketika teman temanku tak mempedulikanku. Aku memang terlalu pendiam dan wajar saja jika tak ada yang mau berteman denganku. Hal ini membuatku merasa mereka tak pernah menganggapku ada. Aku akan menjadi sosok yang nyata ketika aku hanya menjadi alat pengingat rumus dan mesin penghitung ketika ulangan. Mereka memperalatku disaat mereka butuh. Dari lubuk hati terdalam, Aku butuh sebuah pengakuan.
**
Hari itu datang, sebuah perubahan yang merevolusi separuh jiwaku. Saat pertama aku mengenalnya, Lintang. Ia murid baru dan dengan tatapan penuh kepercayaan memilih duduk sebangku denganku. Ia selalu mengajakku bicara, Ia tak pernah berhenti melontarkan segerombolan pertanyaan yang selalu membiusku untuk berbicara panjang lebar. Semakin lama aku menemukan sebuah kenyamanan, dan kenyamanan itu berkembang menjadi sebuah kebebasan. Sebuah kebebasan abstrak dalam berbagi dan bereksplorasi. Rupanya lintang telah berhasil membongkar sisi lain dibalik sisi misteriusku. Ia berhasil menghancurkan sisi pendiamku. Ia tak pernah memanfaatkan kelebihanku, ia pun tak pernah mentertawakan kekuranganku. Aku berbagi, ia juga berbagi. Berbagi tentang segala hal, dan kebebasan itu kini makin berkembang menjadi sebuah kepercayaan.
Hari ini, aku telah menemukan sesosok sahabat sejati.
Lintang adalah gadis yang energik dan menarik. Ia mudah bergaul dan aktif dalam berbagai organisasi. Tak heran, jika ia memiliki banyak teman, hampir semua orang di sekolah mengenalnya. Guru, Adik kelas, Kakak kelas, Satpam, Penjaga Sekolah semua mungenalnya. Ia memang ramah dan murah senyum. Aku sangat mengagumi kepribadiannya.
**
Lintang adalah salah satu redaksi dari majalah sekolah. Suatu siang di hari minggu ia mengajakku untuk mengadakan wawancara dengan anak anak jalanan. Kami berdua segera melakukan observasi. Aku dan lintang menemukan komunitas anak jalanan di bawah kolong jembatan. Aku dan lintang menghampiri mereka, rupanya mereka sedang menghitung uang hasil ngamen dan berjualan koran. Beberapa dari mereka adalah anak usia 6 sampai 10 tahun. Dan terlihat beberapa anak jalanan lain yang berusia sekitar belasan tahun dan tampak mengayomi teman temannya yang lebih kecil.
“Lihat mereka na... jam segini, anak seumuran mereka harusnya tidur siang. Tapi liat tuh mereka siang siang gini kerja cuma demi makan. Beruntung banget yah kita dulu, makan aja tinggal ngambil!”, ucap lintang yang tak melepas pandangan dari komunitas anak jalanan itu.
Aku dan lintang pun langsung melakukan wawancara. Aku tertarik, melihat seorang anak jalanan yang tampak ceria dan optimis, usianya sekitar 9 tahun. Kami berdua mendekat, dan lintang pun memulai pembicaraan
“Halo dik, namanya siapa?”, sapa lintang penuh semangat
“Namaku adi....”, anak jalanan itu tampak sedikit takut.
“Jangan takut dik. Kakak Cuma mau wawancara buat majalah sekolah. Kakak boleh tau gak gimana kehidupan kamu selama ini..” ucap lintang ramah dan meyakinkan
“Oke kak”, jawab anak itu sumringah
“Kakak mulai ya, 1..2..3..”, ucap lintang sambil menekan tombol start pada recordernya.
“Namaku adi. Aku gak tau nama lengkapku sapa. Tapi katanya Ibu Sri nama lengkapku Adi Setiawan. aku tinggal sama ibu angkatku, rumahnya di dekat rel kereta. Jam 5 pagi aku berangkat jual koran di lampu merah. Kalo udah siang aku ngamen di stasiun kereta. Biasanya sih kalo habis maghrib langsung pulang.”, ucap adi semangat
“Biasanya sehari dapat berapa dik. Kamu nggak sekolah?”, kataku penasaran
“Kalo jual koran biasanya kalo sepi dapet 5ribu kak. Kalo rame 20 ribu. Kalo ngamen gak tentu. Biasanya 8ribu. Kata ibu, adi gak usah sekolah. Ibu gak punya uang. Adi disuruh kerja aja. Sekolah itu mahal, kata ibu enakan ngamen. Soalnya  ngamen dapet uang”, ungkap adi sambil memainkan senar gitar kecilnya.
“Bentar deh, tadi kamu bilang ibu angkat. Ibu kandung kamu kemana”
“Dulu adi sama ibu dan kakak naik kereta dari Surabaya ke Jogja. Adi kehilangan Ibu pas di stasiun. Adi nangis, adi ditinggal. Ibu gak nyari adi, adi nangis sendirian di deketnya gerbong kereta yang rusak. Terus ada ibu ibu di stasiun yang mau ke Jakarta. Namanya Ibu Sri. Ibu itu ngajak adi naik kereta. Adi dibawa ke Jakarta. adi diajak tinggal di rumahnya. Adi disuruh ngamen. Adi diangkat jadi anak dan jadi kayak sekarang...”, ucap adi polos.
“Kamu gak pengen pulang ke Surabaya?”, ucap lintang penuh simpati.
“Nggak Kak.. Adi benci sama ibu, ibu gak cari adi. Adi gak mau pulang. Adi sudah lupa sama muka ibu. Mungkin ibu disana juga gak peduli sama adi. Dulu di Surabaya ibu sering mukul adi. Adi gak mau pulang. Adi takut, enak di Jakarta sama ibu Sri. Ibu Sri nggak jahat. teman adi banyak sekali disini.. Oh iya, kakak kenal sama presiden? Tolong bilang ya ke Pak Presiden, Adi gak bisa baca tapi Adi pengen jadi Polisi..”
Lintang  menangis sambil menggenggam recorder.
**
Suatu sore di hari sabtu lintang datang ke rumahku. Aku membantu lintang menyusun laporan wawancara anak jalanan. Ku lihat lintang duduk sendirian di beranda. Ia tampak memegang recorder dan mendengarkan percakapan antar ia dan anak jalanan itu. Ia terlihat merenung, aku mendekat sambil membawa 2 gelas teh yang masih hangat. Aku menaruh teh itu di meja, kupegang pundak lintang kemudian ia berbisik  “aku akan bantu mereka....”, lintang menangis.
Aku terhanyut. Ku lihat secarik kertas, tulisan lintang : ADA BINTANG DI BAWAH KOLONG JEMBATAN
**
Satu bulan kemudian, lintang harus dihadapkan dengan kenyataan pahit yang benar benar mengguncah mental dan jiwanya. Sebuah pengakuan dari ibunya bahwa kini ibunya telah jatuh cinta pada pria lain, dan ibunya sudah tak sanggup lagi hidup bersama ayah lintang yang selalu sibuk bekerja dan jarang pulang ke rumah. Hal ini membuat pertengkaran berlarut larut antara kedua orang tua lintang. Ayah lintang merasa sangat murka, terluka dan terkhianati. Dan ibu lintang pun rupanya sudah siap dengan segala resiko dari sebuah pilihan yang menikam banyak pihak, terutama lintang. Mereka memutuskan bercerai. Ibu lintang telah menemukan dunianya, dunia baru dengan suami baru dan segala kontroversi.
Lintang sangat terpukul. Ia tak menyangka kebahagiaan itu kini hancur. Kenangan masa kecil yang indah, sosok ibu yang selalu membimbingnya telah pergi demi laki laki lain. Orang tuanya bercerai. Ia tertekan.
Lintang memilih tinggal bersama ayahnya, lebih tepatnya memilih untuk menemani ayahnya yang terluka. Sejak saat itu ayah lintang berubah. Ayah lintang menjadi lebih pendiam dan tertutup. Ayah lintang bekerja semakin keras. Ayah lintang semakin jarang pulang ke rumah. Mungkin itu bagian dari pelampiasan untuk melupakan luka yang terlanjur meradang dan tak bisa terobati. Lintang selalu murung, memikirkan keluarganya yang kacau balau. Aku tak lagi melihat sosok lintang yang aktif dan ceria. Aku tak lagi melihat lintang yang selalu tersenyum. Sahabat, kembalilah.. aku mau kamu yang dulu.
**
Kondisi kesehatan ayah lintang semakin lama semakin menurun. Ayah lintang mengidap penyakit pada paru parunya. Mungkin ini peringatan untuk ayah lintang yang beberapa bulan terakhir bekerja membabi buta hingga tak peduli pada kesehatannya.
Demi alasan kesehatan, keluarga lintang menyarankan untuk mengajak lintang dan ayahnya pindah ke Bandung, di daerah puncak. Udara disana sangat bersih dan cocok untuk ayahnya yang sedang sakit.
Takdir menuliskan sebuah perpisahan.
Pagi itu aku datang ke rumah lintang. Rupanya semua benda sudah diboyong ke bandung. Lintang  yang akan memasuki mobil tiba tiba melihatku, ia berjalan dan tersenyum ke arahku.
“Ini waktunya na... Maaf ya, aku harus pergi. Thanks ya, kamu sahabat terbaikku. Aku gak bakal lupain kamu. Kamu jangan nangis dooong. Aku pasti kembali, aku bakal kembali dengan sebuah perubahan besar..”, aku tertegun. Jiwaku bergejolak, berat rasanya untuk berkata sepatah saja.
Lintang memelukku, kemudian ia pergi sambil melambaikan tangan dari dalam mobil. Semakin lama ia semakin jauh, dan ketika bayangannya sudah tak tampak aku masih terdiam. Aku merasakan ada yang hilan. Tak lama aku sadar, aku beranjak dan masih membisu. aku tau semua telah terjadi. Waktu dan takdir telah berhasil bersekongkol menculik sahabat terbaikku.
**
Aku menjalani hari hari tanpa lintang, secara perlahan dan tak langsung ia telah menyihirku. Aku berubah, tak se-pendiam dulu. Aku banyak belajar dari lintang. Lintang mengajariku bergaul dan bersosialisasi. Terkadang setiap aku melihat beberapa anak jalanan di lampu merah aku teringat Adi, dan jika teringat Adi aku pasti teringat Lintang. Lintang sangat terobsesi untuk mewujudkan mimpi anak jalanan itu. Hingga kini, Lintang tak pernah memberi kabar. Aku tak bisa menghubunginya. Aku lost contact selama 8 bulan.
**
Siang hari, di hari minggu. ada sebuah sms di handphone ku. Nomor tak dikenal,
Segera temui aku di kafe pelangi hari ini. Jam 4 sore. Aku sangat mengharapkan kehadiranmu.
-Lintang-
Aku terkejut, Lintang. Ia kembali. Aku segera menemuinya di kafe pelangi. Ia duduk di tempat biasa, di dekat jendela. Lintang terlihat semakin sehat. Rambutnya semakin panjang, kira kira 5cm. Ia mengenakan kemeja merah kesayangannya. ia tersenyum. Dan sangat jelas ia bahagia. ia datang membawa kabar gembira. Ayahnya sudah kembali sehat. Ia senang tinggal di Bandung. Dan Lintang benar, ia benar benar kembali dengan sebuah perubahan.
“Na... kamu harus tau! Berkat usaha Ayah dan Keluargaku, aku berhasil membuka Rumah Singgah untuk anak jalanan. Kurang lebih 130 anak jalanan terdaftar sebagai anggota di rumah singgah itu, luar biasa bukan? Aku senang membantu mereka. Oh iya, Adi juga ikut menjadi anggota Rumah Singgah kami. Dan, sekarang ia sudah mulai bisa membaca ... begitu pula anak jalanan lainnya. Dalam waktu 5 bulan mereka sudah mulai bisa membaca, Semangat mereka luar biasa. Aku senang. Oh iya, berkat bantuan Om ku, rumah singgah ini ada di bawah naungan Komnas Perlindungan Anak lhooo..”,ucap lintang penuh semangat.
“wah, hebat kamu lin. Aku salut sama kamu”, ucapku kagum.
“oh iya, ada satu hal lagi. Minggu depan kamu harus datang ke acaraku dan anak anak jalanan lainnya. Kami diundang makan malam bersama di acara nya Komnas Perlindungan Anak dan tau nggak sih Pak Presiden bakal dateng ke acara itu lhoo..”, ajak lintang penuh harap.
“Past Lin. Aku pasti dateng kok. Aku bangga Kamu berhasil mewujudkan mimpi salah satu diantara mereka..”
“Mimpi? Apa ?”, lintang bingung
“Adi akan berkata pada Pak Presiden bahwa ia sudah bisa membaca dan ingin menjadi Polisi...”
Lintang tersenyum.


No comments:

Post a Comment